IND | EN

Jumat, 13 Januari 2017 | Penulis : Flex Free

SINDROM OUTLET DADA (THORACIC OUTLET SYNDROME). Bagian II

Diagnosis Sindrom Outlet Dada (Thoracic Outlet Syndrome)

Mendiagnosis sindrom outlet dada/TOS sering sulit karena gejala dan keparahan yang sangat bervariasi pada orang-orang dengan gangguan tersebut. Untuk mendiagnosis sindrom outlet dada, dokter harus mengevaluasi gejala dan riwayat medis dan melakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda eksternal dari sindrom outlet toraks, seperti depresi pada bahu, bengkak atau perubahan warna pucat di lengan, pulsasi (denyut nadi) abnormal, atau adanya gerakan yang terbatas.

Beberapa Tes Provokasi untuk Memicu Gejala pada Sindrom Outlet Dada/TOS

Tes Provokasi Sindrom Outlet Dada/TOS

Sering dilakukan beberapa tes provokasi yang bertujuan untuk memicu gejala penjepitan saraf dan atau pembuluh darah di daerah outlet dada. Tes ini dapat membantu dokter menentukan penyebab dan membantu menyingkirkan penyebab lain yang mungkin memiliki gejala yang sama. Pemeriksaan manuver tertentu dari lengan dan leher ini dapat menghasilkan gejala saraf dan pembuluh darah terjepit dan menyebabkan hilangnya pulsasi (denyut nadi).

Rontgen dapat menunjukkan kemungkinan adanya tulang rusuk tambahan dan menyingkirkan kondisi lain yang dapat menyebabkan timbulnya gejala.

USG menggunakan gelombang suara untuk mengevaluasi masalah pembuluh darah pada sindrom outlet toraks atau masalah pembuluh darah lainnya.

CT scan menggunakan sinar-X untuk untuk melihat pembuluh darah secara lebih rinci (CT angiography).

Magnetic Resonance Imaging (MRI). MRI menggunakan gelombang radio yang kuat dan magnet untuk membuat tampilan lebih rinci dari lokasi kompresi pembuluh darah (vaskular)dan penyebabnya. MRI dapat mengungkapkan anomali kongenital, seperti jaringat ikat fibrosa yang menghubungkan tulang belakang ke tulang rusuk atau tulang rusuk pertama, yang mungkin menjadi penyebab gejala.

Penanganan Sindrom Outlet Dada (Thoracic Outlet Syndrome)

Pada kebanyakan kasus, penanganan sindrom outlet dada/TOS dilakukan dengan pendekatan konservatif. Penanganan konservatif untuk kondisi ini merupakan pilihan penanganan yang cukup efektif dan telah terbukti berhasil pada sebagian besar pasien.

Penanganan konservatif (non-operatif) mencakup istirahat relatif, pemberian obat-obat anti inflamasi non steroid (OAINS), fisioterapi dengan menggunakan modalitas terapi seperti ultrasound, stimulasi listrik saraf transkutan, biofeedback dan latihan fisik. Fisioterapi ditujukan untuk mengontrol nyeri.

Latihan fisik

Latihan fisik dengan melatih berbagai gerakan pada otot trapezius atas, levator skapula, scalenus, sternokleidomastoid, pektoralis mayor, pektoralis minor, suboccipitalis, dengan latihan peregangan tertentu.

Peregangan harus dimulai dengan singkat dan bertahap dan tidak boleh agresif. Setelah keluhan nyeri terkontrol (mereda) dan gerak leher kembali normal, latihan akan semakin ditingkatkan intensitasnya. Kepatuhan pasien tidak boleh diabaikan.

Latihan Fisik pada Sindrom Outlet Dada/TOS

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

- Belajar melakukan latihan yang memperkuat dan meregangkan otot-otot bahu untuk membuka outlet toraks, meningkatkan jangkauan gerak dan memperbaiki postur tubuh.

- Latihan-latihan ini, dilakukan bertahap dari waktu ke waktu dengan panduan isntrukstur khusus dan evaluasi ketat.

- Pasien harus menghindari posisi yang berkepanjangan dalam mengulurkan lengan mereka atau melakukan kegiatan overhead.

- Menghindari tidur dengan lengan diletakkan atau diposisikan sampai belakang kepala.

- Mengusahakan adanya waktu istirahat di tempat kerja untuk meminimalkan kelelahan.

- Mengusahakan penurunan berat badan untuk pasien obesitas.

- Pasien harus menghindari tidur telentang dengan tangan berada di atas kepala.

- Dilarang mengangkat benda berat berulangkali, dianjurkan mengubah tata letak meja kerja dan memodifikasi kegiatan sehari-hari yang memperburuk gejala.

- Koreksi postural berfokus pada posisi yang paling berisiko dan sedikit resiko untuk kompresi. Koreksi postural dan posisi dapat menggunakan splint pergelangan tangan, bantalan siku, gulungan leher yang lembut untuk penggunaan malam hari, dan korset/penyokong lumbal untuk duduk.

- Konsumsi obat obat anti-inflamasi atau relaksan otot untuk membantu meredakan gejala.

Tindakan operasi pada sindrom outlet toraks disarankan bila penanganan lain tidak efektif atau jika memiliki masalah neurologis progresif.

Pembedahan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan tindakan lainnya dan mungkin tidak selalu mengobati gejala yang timbul. Gejala dapat terulang kembali, kekuatan otot mungkin tidak akan kembali normal setelah operasi terlebih bila telah memiliki kerusakan saraf serius karena kondisi tersebut.

Tindakan operasi dilakukan untuk:
- Pengambilan tulang rusuk ekstra dan pemotongan otot-otot tertentu.

- Pengambilan sebagian tulang rusuk pertama untuk melepaskan tekanan di daerah outlet toraks.

- Operasi bypass untuk mengubah rute pembuluh darah di sekitar kompresi.

- Tindakan angioplasti, jika arteri mengalami penyempitan.

Tindakan Bedah pada Sindrom Outlet Dada/TOS

Komplikasi Operasi

Komplikasi dapat terjadi dengan operasi apapun, dan tergantung pada jenis prosedur dan anestesi. Risiko yang terkait dengan operasi meliputi:

- Kerusakan saraf atau pembuluh darah yang menyebabkan kelemahan otot.
- Kolaps paru
.


Jika anda ingin melakukan pendaftaran & informasi tentang pelayanan diklinik kami, anda bisa klik no.WhatsApp dibawah ini. :

085858646477
Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com