Selasa, 24 Januari 2017 | Penulis : Flex Free

RHEUMATOID ARTHRITIS. Bagian II

Diagnosis Rheumatoid Arthritis

Rheumatoid arthritis bisa sulit untuk didiagnosa pada tahap awal, karena tanda dan gejala yang ada mirip dengan banyak gangguan sendi lainnya, seperti gout, pseudogout, osteoarthritis, arthritis gonokokal, atau arthritis psoriatik.
Mengingat proses peradangan yang terjadi pada rheumatoid arthritis berjalan kronis, maka dalam menegakkan diagnosis rheumatoid arthritis, dokter akan mengumpulkan data dari riwayat penyakit dan riwayat keluhan yang diderita. Mulai kapan keluhan timbul, apakah keluhan nyeri dan bengkak sendi terjadi di beberapa sendi secara bersamaan, apakah keluhan nyeri dan bengkak sendi terjadi pada sisi yang sama setiap kali keluhan timbul, apakah ada kekakuan sendi di pagi hari, dll.
Pada pemeriksaan fisik, bisa ditemukan adanya sendi-sendi yang membengkak, tampak merah, dan terasa hangat.  
Pemeriksaan tambahan tidak banyak berperan untuk mendiagnosis rheumatoid arthritis, namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis pasien. 
Pada pemeriksaan laboratorium:
a.  Pemeriksaan darah, misalnya untuk melihat tanda-tanda peradangan dan mendeteksi adanya rheumatoid factor, yang biasanya ditemukan pada sekitar 80% penderita. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan  Sisanya dapat dijumpai pada pasien lepra, tuberculosis paru, sirosis hepatis, hepatitis infeksiosa, lues, endokarditis bakterialis, penyakit kolagen dan sarkoidosis.
b.    Protein C-reakstif biasanya positif
c.    LED meningkat
d.    Leukosit normal atau meningkat sedikit
e.    Anemia normositik hipokrom akibat adanya inflamasi yang kronik
f.    Trombosit meningkat
g.    Kadar albumin serum turun dan globulin naik
Pemeriksaan foto rontgen dilakukan untuk melihat progesivitas penyakit RA. Dari hasil foto dapat dilihat adanya kerusakan jaringan lunak maupun tulang. Pemeriksaaan ini dapat memonitor progresivitas dan kerusakan sendi jangka panjang. Pada pemeriksaan rontgen yang sering terkena adalah sendi metatarsofalang dan biasanya simetris, dan sendi sakroiliaca. Pada awalnya terjadi pembengkakan jaringan lunak dan demineralisasi juksta artikular, kemudian terjadi penyempitan ruang sendi.

Gambaran rontgen pada rheumatoid arthritis

Selain itu juga dapat dilakukan analisa cairan sendi untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan kadar leukosit atau tidak dan juga dapat menyingkirkan kemungkinan penyakit rematik lainnya.
Kriteria dari American Rheumatism Association (ARA) adalah:
1.    Kaku pada pagi hari (morning stiffness), pada persendian dan di sekitarnya sejak bangun tidur sampai sekurang-kurangnya 1 jam.
2.   Arthritis pada 3 daerah, disertai pembengkakan jaringan lunak atau persendian (soft tissue swelling), bukan pembesaran tulang (hyperostosis). Beberapa persendian yang sering mengalami, yaitu interfalang proksimal, metakarpofalang, pergelangan tangan, siku, pergelangan kaki dan metatarsofalang kanan dan kiri.
3.    Arthritis pada persendian tangan. Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan pada pergelangan tangan seperti yang dimaksud di atas.
4.   Arthritis simetris, maksudnya keterlibatan sendi yang sama meski tidak mutlak bersifat simetris pada kedua sisi secara serentak (symmetrical polyathritis simultaneously).
5.    Nodul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksta artikular.
6.    Faktor rheumatoid serum positif. Terdapat titer abnormal dengan hasil positif <5% dari kelompok kontrol.
7.    Terdapat perubahan gambaran radiologis yang khas pada pemeriksaan sinar rontgen tangan postero anterior atau pergelangan tangan, yang menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berdekatan dengan sendi.
Diagnosis ditegakkan jika sekurang-kurangnya terpenuhi 4 dari 7 kriteria di atas.

Pemeriksaan fisik pada area yang mengalami keluhan
Sumber : www.arthritis.answers.com

Pengobatan Rheumatoid Arthritis

Belum ada pengobatan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan rheumatoid arthritis. Tujuan pemberian terapi adalah untuk mengurangi peradangan sendi dan rasa nyeri, memaksimalkan fungsi sendi, dan mencegah terjadinya kerusakan dan kelainan bentuk sendi.

Secara garis besar tatalaksana OA dibagi menjadi:

A.    Penanganan secara non operatif (terapi konservatif)
B.    Penanganan secara operatif diikuti dengan penanganan secara non operatif (terapi operatif)

A.   Terapi konservatif pada rheumatoid arthritis dilakukan untuk mengurangi peradangan sendi, mengatasi dan mengontrol rasa nyeri, memaksimalkan fungsi sendi yang terkena, meliputi:

1.    Istirahat dan Nutrisi

•    Sendi yang mengalami peradangan berat harus diistirahatkan, karena pemakaian sendi bisa memperberat peradangan yang terjadi. Istirahat secara teratur seringkali dapat membantu meredakan rasa nyeri, dan terkadang istirahat total dapat membantu untuk meredakan kekambuhan penyakit yang berat.
•    Pembidaian atau pemakaian penyangga (brace) bisa dilakukan untuk mencegah pergerakan sendi (imobilisasi) sehingga sendi dapat diistirahatkan, dan membantu meredakan nyeri tetapi beberapa gerakan sendi tetap diperlukan untuk mencegah kekakuan dan kelemahan otot.
•    Tidak ada makanan tertentu yang dapat menyembuhkan rheumatoid arthritis atau telah terbukti bisa menimbulkan kekambuhan penyakit. Makanan mengandung minyak ikan (asam lemak omega-3) bisa membantu meredakan gejala pada beberapa orang dengan rheumatoid arthritis. Selain itu, efek anti-peradangan dari curcumin yang terdapat pada kunyit bisa bermanfaat untuk mengurangi gejala-gejala penyakit.

2.    Obat-obatan

•    Obat Anti Peradangan Non Steroid (OAINS)
OAINS, seperti Ibuprofen atau Naproxen, bisa digunakan untuk mengatasi gejala-gejala rheumatoid arthritis, seperti pembengkakan dan rasa nyeri. Namun, obat ini tidak dapat mencegah kerusakan sendi akibat perkembangan rheumatoid arthritis.

OAINS sebaiknya tidak digunakan untuk orang-orang dengan gangguan saluran cerna, seperti ulkus peptikum atau tukak lambung, karena OAINS bisa menyebabkan gangguan lambung.

Efek samping lain yang bisa terjadi akibat pemakaian obat OAINS antara lain sakit kepala, peningkatan tekanan darah, perburukan tekanan darah tinggi, perburukan fungsi ginjal, pembengkakan, serta penurunan fungsi trombosit. OAINS juga bisa meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan stroke. Risiko ini tampaknya lebih tinggi jika obat digunakan dalam dosis besar dan waktu yang lebih lama.

Sumber gambar: www.webmd.com

•       DMARD (Disease-Modifyinng Antirheumatic Drug)
DMARD, seperti  Methotrexate, bisa digunakan untuk menghambat perkembangan penyakit rheumatoid arthritis. Pemberian obat ini mungkin lebih efektif dalam bentuk kombinasi ketimbang obat tunggal. Namun, karena risiko efek samping yang berbahaya (misalnya kerusakan hati, penekanan sumsum tulang, atau infeksi paru berat), maka pemakaian obat ini harus dipantau secara ketat oleh dokter.

•    Kortikosteroid
Kortikosteroid, seperti  Prednison, merupakan obat yang efektif untuk mengurangi peradangan dan gejala-gejala rheumatoid arthritis. Meskipun kortikosteroid efektif untuk pemakaian jangka pendek, tetapi obat ini tidak dapat mencegah kerusakan sendi dan bisa menjadi kurang efektif pada pemakaian jangka panjang, padahal rheumatoid arthritis biasanya aktif selama bertahun-tahun.

Selain itu, pemakaian kortikosteroid jangka panjang hampir selalu menimbulkan efek samping hampir di seluruh organ tubuh. Efek samping yang bisa terjadi antara lain: penipisan kulit, memar, osteoporosis, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi dan katarak. Orang-orang dengan ulkus peptikum, tekanan darah tinggi, infeksi yang tidak teratasi, diabetes, dan glaukoma sebaiknya tidak menggunakan kortikosteroid.

Efek samping penggunaan obat-obatan anti inflamasi untuk jangka panjang

3.    Terapi fisik (fisioterapi) dan latihan fisik 

•    Terapi fisik (Fisioterapi) merupakan perpaduan terapi menggunakan alat-alat dengan metode pemijatan, traksi, dan terapi pemanasan dan pelatihan fisik.
•    Latihan fisik diperlukan agar tidak terjadi kekakuan pada sendi yang meradang. Sendi harus dilatih secara perlahan terutama saat fase akut peradangan. Setelah peradangan mereda, bisa dilakukan latihan aktif yang rutin, tetapi jangan sampai terlalu lelah. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. Untuk mengatasi persendian yang kaku, perlu dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan.
•    Terapi okupasi, adalah terapi yang bertujuan untuk menemukan cara sehingga penderita dapat melakukan aktivitas tanpa rasa nyeri dan melakukan koreksi kelainan bentuk anggota gerak tubuh yang membatasi penderita untuk beraktivitas. Penderita yang menjadi cacat karena rheumatoid arthritis bisa menggunakan alat bantu untuk melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya dengan menggunakan sepatu ortopedik atau sepatu atletik khusus.

 Sumber gambar: www.webmd.com

B.    Terapi operatif atau pembedahan pada rheumatoid arthritis mungkin diperlukan untuk kasus tertentu yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, misalnya kelainan bentuk anggota gerak tubuh yang membatasi penderita untuk beraktivitas.

Tindakan pembedahan untuk mengganti sendi lutut atau sendi pinggul merupakan cara yang paling efektif untuk mengembalikan mobilitas dan fungsi sendi jika penyakit telah mencapai tahap lanjut. Cara ini dilakukan jika sendi telah mengalami kerusakan berat sehingga memiliki fungsi yang terbatas. Sendi juga bisa satukan, terutama pada kaki, sehingga penderita bisa berjalan tanpa rasa nyeri, atau pada tulang belakang untuk mencegah penekanan pada medula spinalis.

 

 

 

Referensi

- A, Roy D. Rheumatoid Arthritis (RA). Merck Manual Home Health Handbook. 2013.
- Mayo Clinic. Rheumatoid Arthritis. 2013.
- S, William C. Rheumatoid Arthritis. Medicine Net. 2013.
- T, Ariel D. Rheumatoid Arthritis. Medline Plus. 2012.

Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com