IND | EN

Rabu, 26 Juni 2019 | Penulis : dr. Gaby Venera

Terapi ESWT (Extracorporeal Shock Wave Therapy) pada Sindrom Piriformis

Sindrom piriformis merupakan keluhan pada bagian saraf dan otot dengan tipe nyeri sciatica akibat terjepitnya saraf sciatic oleh otot piriformis. Saraf sciatik dapat terjepit oleh karena adanya trauma, peradangan, kondisi degeneratif (penurunan kondisi organ atau jaringan oleh karena proses penuaan), serta variasi bentuk tubuh. Penyakit ini juga sering menyerupai penyakit seperti discitis, radikulopati lumbar, disfungsi sakral primer, sacroiliitis, bursitis sciatica dan trokanter sehingga diperlukan pengetahuan struktur dan fungsi otot piriformis dari dokter yang memeriksa.

Sindrom piriformis lebih sering mengenai individu berusia 40 hingga 50 tahun dan lebih sering muncul pada wanita dibandingkan pria. Penyebab sindrom piriformis dibedakan menjadi 2 tipe yaitu :

  • Sindrom piriformis primer

Muncul pada 15% kasus. Disebabkan oleh variasi anatomis seperti otot piriformis yang bercabang, saraf sciatic yang bercabang, atau alur saraf sciatic yang abnormal.

  • Sindrom piriformis sekunder

Disebabkan oleh faktor-faktor seperti makrotrauma, mikrotrauma, dan kurangnya aliran darah menuju suatu organ yang menimbulkan adanya penyumbatan baik besar maupun kecil. Penyebab paling sering adalah makrotrauma pada area bokong dilanjutkan dengan mikrotrauma akibat penggunaan otot piriformis yang berlebihan. Contoh mikrotrauma antara lain berjalan atau berlari jarak jauh dan kompresi langsung seperti pada individu yang menduduki dompet yang tersimpan pada celana belakang.

Nyeri pada sindrom piriformis terfokus pada area pinggul dan bokong. Gejala- gejala yang biasa dikeluhkan antara lain :

  • Nyeri saat duduk, berdiri, atau berbaring selama lebih dari 15-20 menit
  • Nyeri dan/atau kesemutan yang menjalar dari tulang ekor melewati area bokong, hingga ujung paha bawah
  • Nyeri membaik dengan bergerak dan memburuk jika tidak bergerak
  • Nyeri meningkat apabila bergerak dari posisi duduk atau jongkok
  • Perubahan posisi tidak mengurangi nyeri secara total
  • Nyeri panggul
  • Kesulitan berjalan
  • Rasa baal pada area kaki
  • Kelemahan pada ekstremitas bawa sesisi yang nyeri
  • Nyeri kepala, leher, perut, pelvis, dan lipatan paha
  • Nyeri saat berhubungan badan pada wanita
  • Nyeri saat buang air besar

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan diagnosis. Pertanyaan yang diajukan akan mencakup riwayat trauma dan adanya perubahan sistem pencernaan dan berkemih. Pemeriksaan fisik akan dilakukan pada area tulang belakang bagian pinggang, pelvis, dan tulang ekor, pemeriksaan perbedaan panjang kaki, dan pemeriksaan refleks. Untuk menyingkirkan diagnosa lain, dokter mungkin akan meminta pemeriksaan computed tomography (CT scan), magnetic resonance imaging (MRI), Magnetic Resonance Neurography (MRN), Electromyography (EMG), atau ultrasound (USG).

Tatalaksana diawali dengan tatalaksana konservatif yaitu dengan pemberian Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS), pelemas otot, kompres es, beristirahat yang disertai dengan latihan peregangan otot piriformis dan penguatan otot panggul. Tatalaksana ini memberikan efek perbaikan pada 79% pasien sindrom piriformis. OAINS dan obat asetaminofen diberikan selama 1 minggu sedangkan obat pelemas otot dapat diberikan hingga 2 minggu dengan efek samping mulut terasa kering, mengantuk, dan pusing.

Sumber gambar: www.orthoneurospine.com

Apabila tatalaksana konservatif tidak memberikan efek perbaikan, maka dapat dilakukan Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT) sebelum dilakukan tindakan injeksi seperti prolotherapy, akupuntur, injeksi lidokain, steroid, atau Botulinum Toxin tipe A (BTX-A) pada titik nyeri. Terapi ESWT telah terbukti mengurangi keluhan pada sindrom pirifromis tanpa efek samping. ESWT akan meningkatkan aliran pembuluh darah, permeabilitas sel membran, aktivitas metabolik, pelepasan faktor pertumbuhan sel pembuluh darah, serta proses pembelahan sel yang dapat mengurangi rasa peradangan dan nyeri serta memperbaiki formasi jaringan sehat. Frekuensi terapi ESWT direkomendasikan sebagai berikut : 3 sesi pertama dilakukan pada interval 7-10 hari, selanjutnya setiap 2-3 minggu sekali. Secara umum, pengurangan rasa nyeri dapat dirasakan pada sesi terapi ke 4 hingga 8. (Baca lebih lanjut mengenai terapi ESWT dalam artikel berikut: Extracorporeal Shock Wave Therapy)

Setelah dilakukan berbagai terapi namun tidak memberikan perbaikan pada keluhan secara signifikan, maka tindakan pembedahan dapat dipertimbangkan.

 

 

 

 

 

Referensi

  1. Boyajian- O’Neill LA, McClain RL, Coleman MK, Thomas PP. Diagnosis and Management of Piriformis Syndrome : An Osteopathic Approach. The Journal of the American Osteopathic Association. 2008; 108 : 657-664.
  2. Elmprsy GS, Abulsalam HS. Effect of Shockwave in Treatment of Sciatic Neuralgia. Ejpmr. 2017; 871-887.
  3. Hopayian K, Song F, Riera R, Sambadan S. The Clinical Features of the Piriformis Syndrome : A Systematic Review. Eur Spine J. 2010; 19 (12) : 2095-2109.
  4. Ro TH, Edmonds L. Diagnosis and Management of Piriformis Syndrome: a Rare Anatomic Variant Analyzed by Magnetic Resonance Imaging. J Clin Imaging Sci. 2018; 8: 6.
  5. Han SK, Kim YS, Kim TH, Kang SH. Surgical Treatment of Piriformis Syndrome. Clin Orthop Surg. 2017; 9(2) : 136-144.

Jika anda ingin melakukan pendaftaran & informasi tentang pelayanan diklinik kami, anda bisa klik no.WhatsApp dibawah ini. :

085858646477
Share :

Sosial Media Flex Free Clinic

Ikuti perkembangan informasi terbaru melalui sosial media kami

Copyright © 2014 - www.flexfreeclinic.com