Mengurangi Risiko Jatuh pada Lansia

Senin, 13 Februari 2023
Flex Free
Senin, 13 Februari 2023
Flex Free

Seiring dengan bertambahnya usia, tubuh akan mengalami banyak perubahan, termasuk sistem muskuloskeletal (otot, tulang dan sendi) dan masalah keseimbangan.

Masalah pada sistem muskuloskeletal dan gangguan keseimbangan dapat menyebabkan risiko jatuh pada lansia meningkat.

Angka kejadian jatuh dan komplikasinya meningkat pada usia ≥ 60 tahun. Jatuh ikut menjadi penyebab kematian pada lansia akibat kecelakaan, dan merupakan penyebab utama lansia dirawat di rumah sakit.

Penyebab Jatuh pada Lansia

Penyebab jatuh pada lansia sangat kompleks dan banyak faktor yang dapat mempengaruhinya. Secara garis besar, jatuh disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik.

  1. Faktor Intrinsik; faktor yang berasal dari dalam, karena kondisi individunya sendiri
  2. Faktor ekstrinsik; faktor yang berasal dari luar, dari lingkungan

Faktor Intrinsik

Faktor instrinsik yaitu karena suatu penyakit, proses penuaan, ataupun bukan karena proses penuaan, misalnya:

  • vertigo
  • gangguan penglihatan (misalnya penyakit katarak)
  • gangguan pendengaran
  • penyakit sistemik (misalnya penyakit jantung)
  • penyakit muskuloskeletal (misalnya osteoarthritis, osteoporosis)
  • penyakit neuromuskuler (misalnya stroke, demensia, Parkinson)
  • komplikasi akibat bed rest lama

Faktor Ekstrinsik

Faktor ekstrinsik (dari luar) dapat berupa:

  • Kondisi lingkungan (di dalam maupun di luar rumah), seperti misalnya lantai yang licin, penerangan yang kurang, karpet tebal atau mudah terlipat, mainan anak, anak tangga, lantai yang tidak rata atau bertingkat, perbedaan tinggi lantai/adanya pembatas antar ruang (misal di pintu kamar mandi), tidak ada pegangan, ranjang yang terlalu tinggi atau terlalu pendek, hewan peliharaan, dll.
  • Penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan efek samping mengantuk, lemas, otot melemah, seperti misalnya obat diabetes, obat flu, obat penenang, dll.

Mekanisme Jatuh pada Lansia

Lansia dapat terjatuh akibat:

  1. Terpeleset (Slip). Biasanya berhubungan erat dengan gangguan ketajaman penghlihatan dan koordinasi.
  2. Tersandung (Trip). Biasanya berhubungan dengan kelemahan otot pangkal paha yang berfungsi untuk mengangkat tungkai atas dan tungkai bawah.

Komplikasi Terjatuh pada Lansia

Berbeda dengan usia muda, lansia yang terjatuh dapat mengalami komplikasi yang berat, mulai dari kecacatan, hingga kematian.

Komplikasi yang dapat terjadi misalnya:

  • memar dan perdarahan
  • patah tulang belakang, tulang pergelangan tangan, atau tulang pangkal paha
  • komplikasi akibat terlalu lama berbaring misalnya:
    • pneumonia
    • atrofi otot
    • decubitus
    • depresi
    • takut atau tidak percaya diri untuk berjalan
    • malnutrisi karena tidak mau makan

dan lain sebagainya

Bagaimana Mencegah Jatuh pada Lansia?

Untuk dapat mencegah jatuh pada lansia, harus diketahui terlebih dahulu faktor-faktor risikonya, kemudian diambil tindakan yang sesuai dengan faktor-faktor risiko tersebut.

Tips Mengurangi Risiko Jatuh pada Lansia

risiko jatuh pada lansia

Sumber gambar: www.amedisys.com

Untuk dapat mengurangi risiko jatuh pada lansia, lakukan beberapa tips berikut:

  1. Berikan penerangan yang cukup di area sekitar lansia beraktivitas, terutama di malam hari.
  2. Jangan meletakkan benda-benda, terutama yang kecil, di lantai, yang dapat menyebabkan lansia tersandung.
  3. Jangan gunakan karpet karena lansia juga bisa tersandung.
  4. Jaga kebersihan lantai tempat tinggal lansia, gunakan lantai yang tidak licin.
  5. Pasang pegangan tambahan di dinding yang mudah dijangkau untuk lansia, misalnya di sebelah tempat tidur atau di kamar mandi untuk membantu lansia berpegangan.
  6. Jangan membuat tanggul pada pintu masuk rumah atau di depan kamar mandi.
  7. Perhatikan cara dan aturan minum obat-obatan tertentu yang memiliki efek samping yang meningkatkan risiko terjatuh.
  8. Jangan langsung berdiri setelah makan karena dapat menimbulkan serangan vertigo.
  9. Gunakan bantal yang lebih tinggi ketika tidur bila bantal yang rendah menyebabkan gejala pusing atau vertigo.
  10. Rajin berolahraga, terutama olahraga yang melatih keseimbangan, kekuatan otot-otot kaki dan latihan berjalan yang sesuai dengan kondisi masing-masing lansia.
  11. Segera konsultasikan dengan dokter bila ada keluhan atau masalah pada sistem muskuloskeletal, atau sistem tubuh lainnya.
  12. Konsumsi suplemen yang sesuai dengan petunjuk dokter untuk menjaga kesehatan tulang, otot, sendi dan saraf (misalnya kalsium, glukosamin, vitamin D, dll, sesuai dengan kebutuhan).

 

 


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561