NEUROPATI DIABETIK (Keluhan Syaraf Pasien Diabetes)

18 Juli 2019 , dr. Gaby Venera
18 Juli 2019
dr. Gaby Venera

Pada pasien kencing manis atau diabetes mellitus, kadar gula dikontrol dengan obat-obatan yang diminum atau disuntikkan secara rutin. Apabila kadar gula tidak terkontrol apalagi dalam jangka panjang maka akan menimbulkan komplikasi pada saraf.

Gula darah yang tinggi dapat merusak saraf yang mengirimkan sinyal dari seluruh tubuh terutama kaki dan tangan. Kerusakan ini disebut dengan neuropati diabetik.

Gejala Neuropati Diabetik

Gejala neuropati diabetik sangat beragam, tergantung saraf yang mengalami gangguan. Gejala juga berkembang secara perlahan dan bertahap sehingga banyak penderita diabetes yang menyadari saat kerusakan saraf sudah terjadi. Gejala neuropati yang dapat terjadi antara lain :

1. Neuropati perifer

Neuropati perifer adalah tipe neuropati pada penderita diabetes yang paling sering terjadi. Awalnya penderita hanya merasakan nyeri kecil yang kadang-kadang muncul. Lama-lama gejala akan dirasa semakin berat terutama pada malam hari, seperti :

  • Nyeri
  • Rasa terbakar, rasa tertusuk, atau tersengat
  • Baal (mati rasa)
  • Kesemutan
  • Koordinasi lemah
  • Kram otot dan/atau twitching
  • Kurangnya sensitivitas pada nyeri dan/ atau suhu
  • Sensitivitas berlebih bahkan pada sentuhan yang ringan

Sumber gambar: www.rush.edu

Gejala neuropati perifer terjadi pada area kaki dan tangan, insidensi yang paling sering adalah pada kaki karena saraf perifer kaki lebih panjang. Kerusakan saraf pada kaki ini dapat menimbulkan deformitas, infeksi, atau amputasi kaki.

2. Neuropati proksimal

Neuropati kedua yang cukup sering terjadi adalah neuropati proksimal yang muncul pada bokong, pinggul, dan kaki. Neuropati ini akan menimbulkan kelemahan pada otot kaki, kesulitan untuk berdiri dari posisi duduk, nyeri berat pada area pinggul, bokong, dan paha secara mendadak.

3. Neuropati otonom

Fungsi saraf otonom adalah untuk mengatur detak jatung, laju napas, dan proses pencernaan tanpa kita sadari. Gejala otonom yang dapat terjadi antara lain :

  • Jantung : pusing saat berdiri lama bahkan bisa pingsan, detak jantung tidak teratur, mudah merasa lelah saat beraktivitas.
  • Pencernaan : kembung, konstipasi, diare, mual dan muntah, mudah merasa kenyang saat makan, pencernaan melambat, big blood-sugar swing (penyerapan kadar gula dari makanan tidak teratur)
  • Mata : kesulitan untuk melihat terutama saat malam hari atau saat adanya perubahan cahaya secara mendadak
  • Organ reproduksi : disfungsi ereksi pada pria dan vagina mengering pada wanita. Keduanya mengalami kesulitan untuk orgasme.
  • Kelenjar keringat : keringat berlebih terutama saat malam hari dan makan-makanan tertentu, keringat berkurang pada kaki, kulit mengering dan mengelupas, hilangnya bulu kaki
  • Buang air kecil : inkontinensia (buang air kecil tidak disadari), sering buang air kecil pada malam hari, sulit berkemih

Selain itu, gejala otonom yang dapat terjadi adalah “hypoglicemia unawareness” dimana pasien sulit menentukan gejala kadar gula yang menurun drastis karena kerusakan saraf mengurangi munculnya gejala keringat berlebih dan gemetar.

4. Neuropati fokal

Berbeda dengan neuropati diabetes yang lain, neuropati fokal muncul secara mendadak dan berdampak pada kepala, tubuh, dan ekstremitas. Gejala biasa menghilang dalam beberapa minggu.

  • Kepala : kesulitan melihat karena adanya pandangan ganda, nyeri di belakang mata, dan kesulitan untuk memfokuskan pandangan. Selain itu dapat ditemukan kelemahan mendadak pada wajah (Bell’s pasly)
  • Tubuh : nyeri pada dada, perut, sisi tubuh, dan punggung bawah
  • Kaki : nyeri pada paha depan, sisi tulang kering, dan area dalam kaki

Faktor Risiko Neuropati Diabetik

Gejala neuropati diabetik terutama neuropati perifer dapat muncul dengan cepat apabila terdapat kondisi-kondisi penyakit yang menyertai, seperti merokok, alkohol, berat badan berlebih (obesitas), kadar kolesterol dan trigliserida tinggi, serta tekanan darah tinggi.

Kondisi-kondisi tersebut menghasilkan radikal bebas yang merusak DNA dan meningkatkan kondisi peradangan sel saraf.

Diagnosis Neuropati Diabetik

Dokter akan mengajukan pertanyaan seputar diabetes dan gejala neuropati yang terjadi. Setelah itu dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan tambahan untuk mengukur tingkat kerusakan saraf dapat menggunakan Nerve Conduction Velocity (NCV) dan test Electromyography (EMG).

Tes NCV mengukur seberapa lama sel saraf mentransmisikan sinyal sedangkan tes EMG untuk mengukur seberapa baik otot memberikan respon terhadap saraf.

Penatalaksaan Neuropati Diabetik

Sumber gambar: www.podiatrytoday.com

Tatalaksana yang dapat diberikan pada penderita neuropati diabetik adalah obat-obatan seperti antikejang, antidepresan, dan pereda nyeri. Di samping obat-obatan, penderita juga dapat diberikan terapi pengurangan nyeri, latihan fisik, dan terapi okupasi.

Terapi pengurangan nyeri yang dilakukan adalah Transcutaneous Nerve Stimulation (TENS), terapi static magnetic field, laser intensitas rendah, dan cahaya infrared.

Latihan fisik seperti latihan peregangan, penguatan, aerobik, dan keseimbangan dilakukan penderita setiap hari di rumah. Apabila muncul infeksi pada kaki, maka diperlukan perawatan luka yang sesuai untuk mencegah kerusakan jaringan lebih jauh yang berujung pada amputasi.

Pencegahan Neuropati Diabetik

Cara untuk mencegah atau memperlambat terjadinya kerusakan saraf yaitu mempertahankan kadar gula dalam rentang target dengan mengatur pola makan, melakukan olahraga teratur, dan menggunakan obat-obatan diabetes secara teratur.

Untuk memantau kadar gula dapat dilakukan dengan alat pemeriksaan gula sederhana yang digunakan sehari-hari dan pemeriksaan kadar HbA1C minimal 2 kali dalam setahun di laboratorium.

Apabila terjadi neuropati diabetik ada beberapa hal yang dapat dilakukan :

  1. Periksakan diri Anda ke dokter begitu gejala dirasakan muncul untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
  2. Perhatikan kondisi kaki : periksa kondisi kaki setiap hari.

Apabila Anda tidak dapat merasakan nyeri atau adanya rasa baal pada kaki, Anda tidak langsung menyadari adanya luka pada kaki.

Hal-hal yang diperiksa termasuk adanya titik panas atau dingin, kulit yang terlalu kering, tonjolan pada kulit, luka terbuka, kapalan, melepuh, kemerahan, atau bengkak pada kulit kaki.

Jangan lupa juga untuk memeriksa kondisi kuku kaki. Apabila menemukan luka pada kaki, segera periksakan diri Anda ke dokter.

  1. Gunakan pelembap pada kaki yang kering.
  2. Gunakan pelindung kaki yang nyaman untuk berjalan. Gunakan sepatu khusus apabila memang diperlukan.

Referensi :

  1. American Diabetes Assoctiation (diabetes.org)
  2. endocrineweb.com

Artikel lain info penyakit yg ditangani

WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
CABANG JAKARTA
CABANG BANDUNG