Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia

 

Sejarah

Dr. Raden Soeharso, seorang ahli bedah Palang Merah Indonesia semasa Perang Dunia Kedua, yang memiliki visi untuk memulihkan para pejuang cacat korban perang untuk kembali ke masyarakat.

Dengan semangat kebangsaan yang tinggi, Dr. Soeharso bersama dengan seorang teknisi, yaitu Bapak R. Soeroto Reksopranoto, merintis pembuatan kaki atau tangan tiruan (prostesis) di garasi mobil di halaman belakang Rumah Sakit Umum Surakarta tahun 1947.

Melalui program perintisan yang heroik, Dr. Soeharso telah memperlihatkan komitmen keteguhannya untuk menyediakan prostesis dan latihan vokasional bagi para penyandang cacat, baik mantan pejuang maupun rakyat sipil. Keberhasilannya dalam menerapkan prinsip-prinsip serta metode rehabilitasi dengan sumber daya terbatas mengantar Dr. Soeharso bersama Ibu Soeharso sebagai penerima penghargaan “THE ALBERT LASKER AWARD” dari International Society for Rehabilitation of the Disabled tanggal 19 September 1969 di Dublin, Irlandia.

Tentang

Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi adalah dokter yang menangani pasien dengan gangguan fungsi tubuh atau keterbatasan fisik akibat penyakit atau cedera.

Sp.K.F.R menangani sesuai dengan sub bagian dari Ilmu Kedokteran fisik dan rehabilitasi yaitu:

  1. Rehabilitasi musculoskeletal menangani: gangguan fungsi akibat kelainan pada otot, tulang dan sendi (sistim musculoskeletal), seperti: nyeri pinggang, pengapuran sendi, keropos tulang, nyeri leher, nyeri bahu, dsb.
  2. Rehabilitasi neuromuscular menangani: gangguan fungsi yang disebabkan oleh kelainan saraf tepi, saraf sumsum tulang belakang dan otak, seperti saraf kejepit di leher, saraf kejepit di pinggang, pemulihan paska stroke, Parkinson, dsb.
  3. Rehabilitasi kardiorespirasi menangani: gangguan fungsi akibat penyakit jantung dan paru-paru, seperti penyakit paru PPOK, paska operasi atau ring jantung, asthma, paska infeksi covid dsb
  4. Rehabilitasi cedera olah raga menangani: gangguan fungsi pada sistim otot, tulang, sendi dan saraf yang diakibatkan karena cedera olah raga, seperti keseleo, kelemahan otot, robekan otot dan tendon, nyeri siku, nyeri pergelangan tangan dan tangan dsb.
  5. Rehabilitasi pediatri menangani: gangguan fungsi pada anak akibat gangguan tumbuh kembang atau pun penyakit anak-anak lainnya.
  6. Rehabilitasi geriatri menangani: gangguan fungsi pada pasien lanjut usia akibat berbagai macam penyakit.
  7. Rehabilitasi intervensi nyeri menangani: gangguan fungsi yaitu nyeri yang disebabkan karena penyakit apapun menggunakan terapi intervensi dengan injeksi dan dengan panduan USG atau pun c-arm atau x-ray.
  8. Rehabilitasi regeneratif menangani: gangguan fungsi akibat penyakit apa pun menggunakan terapi regeneratif yaitu terapi yang menggunakan materi yang berasal dari tubuh pasien sendiri ataupun zat-zat yang bersifat alamiah dengan tujuan untuk mengaktifasi proses penyembuhan atau regeneratif yang dilakukan oleh tubuh pasien sendiri secara alamiah atau menambah dan mengganti zat-zat yang kurang dalam tubuh pasien karena penyakitnya

Perhimpunan yang menaungi yaitu Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) dan memiliki susunan kepengurusan yang disebut Pengurus Pusat PERDOSRI atau PP PERDOSRI

Perhimpunan ini juga memiliki cabang yang tersebar di 13 cabang:

 

Ref:

      perdosri.org

‚Äč