Nyeri Sesudah Amputasi (Phantom Pain) pada Amputasi Tungkai Bawah

Senin, 05 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K
Senin, 05 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K

Nyeri sesudah amputasi adalah keluhan nyeri yang dirasakan setelah seseorang menjalani tindakan amputasi, termasuk amputasi tungkai bawah. Nyeri ini dapat muncul di area sisa tungkai maupun pada bagian anggota tubuh yang sudah tidak ada lagi. Kondisi terakhir ini dikenal sebagai phantom pain, yaitu nyeri yang dirasakan seolah-olah berasal dari kaki yang telah diamputasi.

Bagi banyak pasien dewasa, nyeri sesudah amputasi menjadi tantangan besar dalam proses pemulihan karena dapat mengganggu aktivitas harian, kualitas tidur, kondisi psikologis, serta keberhasilan rehabilitasi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai penyebab, mekanisme, dan rehabilitasi nyeri sesudah amputasi sangat penting agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.

 

Apa Saja Penyebab Nyeri sesudah Amputasi?

Nyeri sesudah amputasi dapat berasal dari beberapa sumber yang berbeda, dan penting untuk membedakannya karena penanganannya juga tidak sama.

  1. Nyeri pada sisa tungkai

Nyeri ini berasal dari jaringan yang masih ada setelah amputasi. Penyebabnya antara lain:

  • Luka operasi yang belum sembuh sempurna
  • Infeksi atau peradangan pada sisa tungkai
  • Tekanan berlebih akibat pembalut atau soket prostesis yang tidak pas
  • Neuroma, yaitu pertumbuhan jaringan saraf berlebihan di ujung saraf yang terpotong
  • Iritasi jaringan lunak atau tulang

Nyeri jenis ini biasanya terasa di lokasi amputasi dan dapat bertambah saat ditekan atau digerakkan.

  1. Nyeri phantom (phantom pain)

Nyeri phantom merupakan nyeri yang dirasakan pada anggota tubuh yang sudah tidak ada. Misalnya, pasien masih merasakan nyeri pada telapak kaki atau jari kaki meskipun kaki sudah diamputasi. Nyeri ini dapat berupa sensasi:

  • Terbakar
  • Tertusuk
  • Tertarik
  • Kesemutan hebat
  • Tersetrum

Nyeri phantom bukanlah nyeri imajiner, melainkan nyeri nyata yang berasal dari perubahan sistem saraf.

 

Mengapa Nyeri sesudah Phantom Pain Harus Ditangani?

Nyeri sesudah amputasi, terutama phantom pain, tidak boleh diabaikan. Bila tidak ditangani dengan baik, nyeri ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:

  • Gangguan tidur kronis
  • Penurunan kemampuan bergerak
  • Gangguan emosi seperti cemas dan depresi
  • Hambatan dalam proses rehabilitasi
  • Penurunan kualitas hidup

Selain itu, nyeri phantom yang berat merupakan kontraindikasi relatif penggunaan prostesis. Artinya, pemasangan dan penggunaan kaki palsu sebaiknya ditunda sampai nyeri dapat dikendalikan. Menggunakan prostesis saat nyeri phantom masih berat justru dapat memperburuk keluhan dan memperlambat pemulihan.

Oleh karena itu, penanganan nyeri sesudah amputasi harus menjadi bagian utama dari program rehabilitasi, bukan sekadar pelengkap.

 

Bagaimana Bisa Muncul Nyeri sesudah Amputasi (Phantom Pain)?

Mekanisme terjadinya nyeri sesudah amputasi bersifat kompleks dan melibatkan sistem saraf dari ujung saraf hingga otak.

  1. Perubahan pada saraf tepi

Setelah amputasi, ujung saraf yang terpotong akan berusaha tumbuh kembali. Proses ini dapat membentuk neuroma yang sangat sensitif dan mudah mengirimkan sinyal nyeri meskipun tidak ada rangsangan nyata.

  1. Perubahan pada sumsum tulang belakang

Sumsum tulang belakang yang sebelumnya menerima sinyal dari tungkai yang diamputasi tetap aktif. Akibatnya, sinyal nyeri dapat terus diproses meskipun sumber aslinya sudah tidak ada.

  1. Reorganisasi di otak

Otak manusia memiliki peta tubuh. Setelah amputasi, bagian otak yang bertugas menerima dan mengontrol tungkai bawah kehilangan masukan. Ketidaksesuaian antara perintah gerak dan umpan balik sensorik ini dapat memicu sensasi nyeri phantom.

Karena itulah nyeri sesudah amputasi tidak hanya masalah di lokasi amputasi, tetapi juga melibatkan otak dan sistem saraf pusat.

 

Bagaimana Rehabilitasi Phantom Pain?

Penanganan nyeri sesudah amputasi harus dilakukan secara komprehensif oleh Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.K.F.R.).

Pendekatan rehabilitasi bersifat individual dan dapat meliputi:

  1. Edukasi pasien

Pasien perlu memahami bahwa nyeri phantom adalah kondisi medis yang umum terjadi dan dapat ditangani. Edukasi membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan kepatuhan terapi.

  1. Terapi cermin (mirror therapy)

Terapi ini menggunakan pantulan anggota tubuh yang masih ada untuk “menipu” otak seolah-olah anggota yang diamputasi masih bergerak. Terapi cermin terbukti membantu mengurangi nyeri sesudah amputasi pada banyak pasien.

  1. Graded Motor Imagery

Terapi ini melatih otak secara bertahap melalui pengenalan kanan-kiri, membayangkan gerakan, dan simulasi visual gerakan. Tujuannya adalah menormalkan kembali respons otak terhadap anggota tubuh.

  1. Modalitas fisik

Beberapa modalitas yang sering digunakan meliputi:

  • Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)
  • Pijat desensitisasi pada sisa tungkai
  • Latihan sensorik bertahap

Modalitas ini membantu menurunkan kepekaan saraf dan mengurangi nyeri sesudah amputasi.

  1. Latihan dan terapi fisik

Latihan difokuskan pada:

  • Penguatan otot panggul dan tubuh bagian atas
  • Latihan keseimbangan
  • Latihan koordinasi
  • Persiapan penggunaan prostesis

Latihan dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kondisi nyeri pasien.

  1. Penanganan medis dan intervensi

Dalam kondisi tertentu, Sp.K.F.R. dapat bekerja sama dengan tim medis untuk:

  • Pemberian obat nyeri saraf
  • Injeksi pada neuroma
  • Blok saraf bila nyeri sangat berat
  1. Dukungan psikologis

Pendampingan psikologis penting karena nyeri sesudah amputasi sering berkaitan dengan stres, kehilangan anggota tubuh, dan perubahan citra diri.

Nyeri sesudah amputasi, khususnya phantom pain pada amputasi tungkai bawah, merupakan kondisi kompleks yang melibatkan sistem saraf tepi dan pusat. Nyeri ini nyata, dapat sangat mengganggu, dan perlu ditangani secara serius. Rehabilitasi oleh Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi berperan penting dalam mengendalikan nyeri, mempersiapkan penggunaan prostesis, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Penanganan yang tepat dan bertahap akan membantu pasien kembali berfungsi secara optimal dan mandiri.


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561
WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi kami melalui