Risiko Patah Tulang karena Osteoporosis pada Dewasa dan Lansia

Rabu, 14 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K
Rabu, 14 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K

Apa itu Osteoporosis dan Bagaimana Cara Mengetahuinya Sejak Dini?

Osteoporosis adalah kondisi pengeroposan tulang yang membuat tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Pada keadaan ini, kepadatan tulang menurun dan struktur mikro tulang melemah. Penyakit ini sering disebut “silent disease” karena berlangsung perlahan tanpa keluhan yang jelas. Banyak orang baru menyadari adanya osteoporosis setelah mengalami patah tulang karena osteoporosis, padahal proses pengeroposan sudah terjadi bertahun-tahun sebelumnya.

Mengetahui osteoporosis sejak dini sangat penting untuk mencegah patah tulang karena osteoporosis. Cara utama mendeteksinya adalah dengan pemeriksaan kepadatan tulang menggunakan DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry).

pemeriksaan osteoporosis

Pemeriksaan ini memberikan gambaran seberapa padat tulang dan seberapa tinggi risiko patah. Selain itu, penilaian risiko juga mempertimbangkan usia, jenis kelamin, riwayat patah tulang sebelumnya, riwayat keluarga, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta penggunaan obat tertentu seperti kortikosteroid jangka panjang.

Pada populasi dewasa dan lansia, terutama wanita pascamenopause dan pria usia lanjut, skrining osteoporosis dianjurkan walaupun belum ada keluhan. Deteksi dini memungkinkan dilakukan pencegahan melalui perubahan gaya hidup, latihan beban yang aman, perbaikan nutrisi, serta terapi medis bila diperlukan. Dengan demikian, risiko patah tulang karena osteoporosis dapat ditekan sebelum terjadi cedera yang serius.

 

Mengapa Lansia Lebih Mudah Mengalami Patah Tulang karena Osteoporosis?

Seiring bertambahnya usia, keseimbangan antara pembentukan dan penghancuran tulang terganggu. Proses pembentukan tulang melambat, sementara proses pengeroposan tetap berjalan. Akibatnya, massa tulang menurun dan kekuatan tulang berkurang. Pada wanita, penurunan hormon estrogen setelah menopause mempercepat pengeroposan tulang. Pada pria, penurunan hormon testosteron dan faktor usia juga berperan.

Lansia juga lebih rentan jatuh karena gangguan keseimbangan, penurunan kekuatan otot, gangguan penglihatan, serta penyakit kronis lain. Kombinasi tulang yang rapuh dan risiko jatuh yang meningkat membuat lansia sangat mudah mengalami patah tulang karena osteoporosis, bahkan akibat benturan ringan atau jatuh dari posisi berdiri.

Lokasi patah tulang yang sering terjadi meliputi tulang belakang, pinggul, pergelangan tangan, dan bahu. Patah tulang pinggul akibat osteoporosis sangat berbahaya karena sering menyebabkan penurunan kemampuan berjalan, ketergantungan pada orang lain, dan meningkatnya risiko komplikasi kesehatan. Oleh karena itu, memahami mengapa lansia rentan mengalami patah tulang karena osteoporosis menjadi langkah awal pencegahan yang penting.

 

Apa Saja Tanda dan Gejala Awal Patah Tulang karena Osteoporosis?

Tanda dan gejala patah tulang karena osteoporosis dapat berbeda tergantung lokasi tulang yang terkena.

  • Pada tulang belakang, gejala awal sering berupa nyeri punggung mendadak tanpa sebab yang jelas, terutama setelah aktivitas ringan seperti membungkuk atau mengangkat barang ringan. Nyeri ini bisa disertai penurunan tinggi badan secara perlahan dan perubahan postur menjadi lebih membungkuk.
  • Pada patah tulang pinggul, gejalanya biasanya berupa nyeri hebat di daerah pinggul atau paha, kesulitan berdiri atau berjalan, dan ketidakmampuan menopang berat badan.
  • Pada pergelangan tangan atau lengan, tampak pembengkakan, nyeri, dan perubahan bentuk setelah jatuh ringan.

Semua kondisi tersebut harus dicurigai sebagai patah tulang karena osteoporosis, terutama bila terjadi pada lansia tanpa trauma berat.

Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri tulang yang menetap, rasa nyeri saat ditekan di area tertentu, serta keterbatasan gerak yang muncul tiba-tiba. Mengenali tanda awal sangat penting agar penanganan dapat dilakukan segera dan mencegah komplikasi lanjutan.

 

Bagaimana Rehabilitasi Patah Tulang karena Osteoporosis?

Rehabilitasi memegang peran penting dalam pemulihan patah tulang karena osteoporosis. Setelah fase akut ditangani dan tulang dinyatakan stabil (baik dengan gips, bidai, maupun pasca-operasi), rehabilitasi medis bertujuan mengembalikan fungsi, mengurangi nyeri, dan mencegah patah ulang.

Pendekatan rehabilitatif non-bedah meliputi latihan gerak sendi secara bertahap untuk mencegah kekakuan, latihan penguatan otot untuk menopang tulang, serta latihan keseimbangan untuk menurunkan risiko jatuh. Modalitas fisik seperti terapi panas, dingin, atau stimulasi listrik dapat digunakan untuk membantu mengendalikan nyeri dan mempercepat pemulihan fungsi.

Edukasi pasien juga menjadi bagian penting rehabilitasi. Pasien diajarkan cara bergerak yang aman, teknik bangun dari duduk atau berbaring, serta penggunaan alat bantu bila diperlukan. Perbaikan gaya hidup seperti latihan beban ringan yang aman, asupan kalsium dan vitamin D yang cukup, serta kepatuhan terhadap terapi osteoporosis jangka panjang sangat berperan dalam mencegah patah tulang karena osteoporosis berulang.

 

Kapan Perlu Dirujuk ke Dokter Ortopedi?

Walaupun banyak kasus dapat ditangani secara rehabilitatif non-bedah, rujukan ke dokter spesialis ortopedi diperlukan bila:

  • terdapat patah tulang yang bergeser
  • patah tulang terbuka
  • patah tulang yang melibatkan sendi besar
  • penyembuhan tulang tidak berjalan baik

Kolaborasi antara rehabilitasi medik dan ortopedi bertujuan mencapai hasil fungsional terbaik dan mengurangi risiko kecacatan jangka panjang.

Dengan pendekatan yang tepat, rehabilitasi yang terencana, dan pencegahan yang konsisten, kualitas hidup pasien dengan osteoporosis dapat dipertahankan dan risiko patah tulang karena osteoporosis dapat diminimalkan.


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561
WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi kami melalui