Nyeri Bokong Saat Duduk : Penyebab, Bedanya dengan , Pencegahan, dan Terapi Regeneratif

Kamis, 23 April 2026
dr. Ferdinand Dennis K, SP.K.F.R.,
Kamis, 23 April 2026
dr. Ferdinand Dennis K, SP.K.F.R.,

Nyeri bokong saat duduk adalah masalah umum yang terjadi saat duduk lama, terutama pada orang pekerja kantor atau pengemudi. Rasa nyeri bisa dirasakan di area bokong (gluteal) atau pinggul bagian belakang. Berbagai penyebab dapat menyebabkan nyeri bokong saat duduk, mulai dari gangguan otot dan saraf hingga masalah sendi. Deep gluteal syndrome (DGS) adalah salah satu penyebab spesifik nyeri panggul yang sering terabaikan. Artikel ini membahas penyebab umum nyeri bokong saat duduk, perbedaan deep gluteal syndrome dengan penyebab lainnya, cara pencegahan, dan pilihan terapi regeneratif untuk mengatasi DGS.

1) Apa Penyebab Nyeri Bokong Saat Duduk ?

Nyeri bokong saat duduk biasanya dipicu oleh beberapa kondisi, di antaranya:

  • Piriformis Syndrome / Deep Gluteal Syndrome (DGS) : Kondisi ini terjadi ketika otot piriformis atau otot dalam bokong lainnya menekan saraf skiatik. Nyeri bisa menjalar ke paha belakang (seperti nyeri saraf), dan semakin terasa ketika duduk lama. DGS menyumbang nyeri bokong saat duduk karena tekanan pada syaraf saat bokong diremas ke kursi.
  • Ischial Bursitis (Weaver’s Bottom) : Merupakan peradangan bursa di tulang duduk (ischial tuberosity). Duduk terlalu lama di permukaan keras dapat mengiritasi bursa ini. Gejalanya nyeri di area tulang duduk (bokong bawah) terutama setelah duduk lama atau bersepeda.
  • Nyeri Saraf Tulang Belakang (Radikulopati Lumbal) : Saraf kejepit di punggung bawah (misalnya diskus hernia) dapat memicu nyeri tumpul di bokong yang bertambah saat duduk. Berbeda dengan DGS, radikulopati biasanya disertai nyeri pinggang dan mati rasa ke tungkai.
  • Coccydynia (Nyeri Tulang Ekor) : Nyeri di area tulang ekor (coccyx) saat duduk. Sering terjadi setelah trauma atau hiperfleksi, dan nyerinya terasa pada tulang ekor, berbeda dengan nyeri bokong umum.
  • Hamstring Tendinopathy : Nyeri di pangkal paha belakang bisa terasa saat duduk jika tendon hamstring bengkak. Nyeri ini lebih ke belakang paha daripada bokong.
  • Osteoartritis atau Radang Sendi Sakroiliaka : Meski lebih sering menimbulkan nyeri pinggang, osteoartritis pinggul atau radang sakroiliaka kadang menyebabkan nyeri bokong yang memburuk saat duduk.
  • Kehamilan atau Fase Menstruasi : Perubahan hormon dan postur tubuh dapat menyebabkan nyeri bokong saat duduk di beberapa wanita, biasanya ringan dan sementara.

Intinya, nyeri bokong saat duduk dapat disebabkan oleh masalah lokal di bokong (otot atau bursa) ataupun gangguan yang menjalar dari tempat lain (saraf atau tulang). Riwayat aktivitas, kecenderungan duduk lama, atau cedera sebelumnya sering memberikan petunjuk penyebabnya.

2) Apa Beda Deep Gluteal Syndrome dengan Penyebab Lain ?

Deep Gluteal Syndrome (DGS) merujuk pada kumpulan kondisi di mana saraf skiatik terjepit oleh otot atau struktur di dalam bokong. Perbedaan nyeri bokong saat duduk akibat DGS dibandingkan penyebab lain antara lain:

  • Lokasi Nyeri dan Penjalaran : Pada DGS, nyeri biasanya lebih dalam di bokong dan sering terasa seperti terbakar atau kesemutan ke tungkai bawah, karena ada kompresi saraf. Sebaliknya, nyeri ischial bursitis lebih terlokalisasi di tulang duduk tanpa sensasi saraf ke tungkai.
  • Pemicu Nyeri : DGS umumnya diperberat oleh duduk lama, terutama jika posisi duduk memampatkan otot piriformis (misalnya menyilangkan kaki). Nyeri akibat bursitis juga muncul saat duduk lama, tetapi lokasinya langsung di tulang duduk. Nyeri radikulopati di sisi lain lebih berhubungan dengan gerakan punggung (misalnya membungkuk atau mengangkat beban).
  • Pemeriksaan Fisik Khas : Pemeriksaan DGS seringkali melibatkan tes FADIR (fleksi, adduksi, rotasi internal pinggul) yang positif atau tes tekan piriformis (nyeri saat menekan bokong bagian dalam). Tes ini memicu kompresi saraf. Sebaliknya, ischial bursitis menunjukkan titik sakit tepat di tulang duduk saat ditekan. Nyeri radikulopati seringkali menunjukkan penurunan refleks lutut atau keluhan nyeri di punggung bawah.
  • Riwayat dan Faktor Risiko : DGS sering dialami atlet atau pekerja dengan gerakan pinggul berulang (misalnya berlari, menendang), dan sering muncul pada usia dewasa muda-menengah. Ischial bursitis lebih terkait dengan kebiasaan duduk terlalu lama di permukaan keras, dan tidak memicu gejala yang menjalar.
  • Tanggapan terhadap Terapi : Nyeri bokong saat duduk akibat DGS lebih responsif terhadap penguatan otot gluteal dan peregangan piriformis, serta injeksi saraf; sedangkan nyeri akibat bursitis lebih cepat mereda dengan pengistirahatan, kompres es, dan anti-inflamasi lokal.

Singkatnya, DGS adalah penyebab nyeri bokong yang melibatkan saraf dan otot dalam secara spesifik. Nyeri DGS sering memiliki ciri khas iradiasi dan pemicu gerakan tertentu, sedangkan penyebab lain seperti bursitis atau radikulopati memiliki tanda dan pemicu yang berbeda.

3) Bagaimana Pencegahan Supaya Tidak Terjadi Nyeri Bokong Saat Duduk ?

Beberapa langkah pencegahan dapat mencegah timbulnya nyeri bokong saat duduk, terutama pada orang yang banyak duduk:

  • Hindari Duduk Terlalu Lama: Saat bekerja di meja atau mengemudi, usahakan untuk berdiri atau berjalan sebentar setiap 30-60 menit. Gerakan ringan (berjalan atau peregangan sederhana) membantu mengurangi tekanan terus-menerus pada bokong.
  • Gunakan Bantal Khusus: Kursi ergonomis dengan bantalan empuk atau bantal penyangga duduk (doughnut cushion) mengurangi tekanan langsung di tulang duduk dan otot bokong. Bantal ini membantu meratakan beban saat duduk agar nyeri bokong saat duduk tidak mudah muncul.
  • Postur Duduk yang Baik: Pastikan lutut sejajar atau sedikit lebih rendah dari pinggul saat duduk. Punggung tegak dengan sandaran, dan hindari menyilangkan kaki terlalu lama. Posisi duduk yang ideal mengurangi ketegangan pada otot bokong dan punggung bawah.
  • Latihan Peregangan Rutin: Lakukan peregangan otot bokong dan pinggul secara berkala. Contohnya, peregangan piriformis (menyilangkan kaki dan mencondongkan badan ke depan) dan hamstring bisa menjaga fleksibilitas otot. Peregangan ini mencegah kekakuan otot yang menimbulkan nyeri bokong saat duduk.
  • Kekuatan Otot Inti dan Pinggul : Otot inti (perut, punggung bawah) yang kuat membantu menopang panggul. Latihan seperti plank, glute bridge, dan clamshell dapat menguatkan otot bokong dan pinggul, sehingga mengurangi risiko cedera saat duduk lama.
  • Kurangi Berat Badan Berlebih : Kelebihan berat badan menambah beban pada panggul saat duduk. Menjaga berat badan ideal mengurangi tekanan pada tulang ischium dan otot gluteal yang dapat memicu nyeri saat duduk.
  • Perlengkapan Latihan : Saat olahraga seperti bersepeda atau mendayung, atur kursi supaya posisi duduk tidak memampatkan bokong terlalu banyak. Pilih juga sepeda atau kursi berlapis empuk untuk mengurangi tekanan berlebih.

Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut secara konsisten, banyak orang dapat mencegah kambuhnya nyeri bokong saat duduk. Kuncinya adalah menjaga sendi dan otot tetap lentur dan kuat, serta menghindari posisi duduk yang memberatkan area bokong.

4) Apa Saja Pilihan Terapi Regeneratif untuk Deep Gluteal Syndrome ?

Untuk deep gluteal syndrome, selain terapi konvensional, beberapa opsi terapi regeneratif telah dieksplorasi:

  • Hydrodissection : Ini adalah injeksi cairan (biasanya larutan garam normal atau anestesi) di sekitar saraf skiatik untuk memisahkan jaringan yang menekan saraf. Hydrodissection efektif pada kasus DGS tipe “nervus-dominan” (di mana saraf skiatik banyak terjepit).
  • Prolotherapy (Injeksi Dextrose) : Suntikan larutan gula (dekstrosa) pekat pada area tendon atau otot bokong yang rusak. Prolotherapy mendorong proses penyembuhan jaringan lewat reaksi inflamasi ringan. Pada DGS tipe “tendon-dominan”, prolotherapy dapat membantu memperbaiki ketegangan otot atau tendon yang berkontribusi pada nyeri.
  • Botulinum Toxin : Suntikan Botox ke otot yang terlalu tegang (misalnya otot piriformis atau hamstring) dapat mengendurkan otot tersebut dan mengurangi tekanan pada saraf. Ini terutama berguna bila spastisitas otot merupakan faktor pemicu nyeri.
  • Terapi Viskosuplementasi (Asam Hialuronat) : Untuk penderita DGS yang juga memiliki perubahan osteoartritis pada pinggul, injeksi hyaluronic acid ke sendi pinggul dapat memperbaiki pelumasan sendi dan mengurangi iritasi pada saraf skiatik.
  • Terapi Platelet-rich Plasma (PRP) : PRP mengandung faktor pertumbuhan dari darah pasien sendiri. Suntikan PRP ke area tendon/bursa bokong mencoba menstimulasi regenerasi jaringan yang rusak. Bukti khusus PRP untuk DGS terbatas, tetapi telah digunakan untuk masalah tendon di dekat bokong (misalnya tendinopati adduktor).
  • Shockwave Therapy : Gelombang kejut ekstrakorporeal dapat diberikan ke otot piriformis atau area bokong. Meskipun bukan suntikan, ini adalah terapi regeneratif non-invasif yang dapat memicu respons penyembuhan di jaringan dalam bokong.

Pilihan terapi di atas biasanya diberikan oleh spesialis (rehabilitasi atau ortopedi) berdasarkan hasil pemeriksaan. Misalnya, jika hasil diagnosis menegaskan ada jepitan saraf oleh otot, hydrodissection bisa direkomendasikan; jika ditemukan kerusakan tendon, prolotherapy mungkin sesuai. Penting untuk dicatat bahwa penelitian klinis tentang efektivitas terapi regeneratif untuk DGS masih terus berkembang. Saat ini, direkomendasikan untuk memilih terapi berdasarkan tipe DGS yang dialami pasien: prolotherapy untuk kasus dominan tendon, dan hydrodissection untuk kasus dominan saraf. Terapi harus selalu dipadukan dengan fisioterapi dan koreksi postur untuk hasil optimal.

 

 


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561
WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi kami melalui