Myofascial Pain Syndrome | Flexfree Clinic Muskuloskeletal

14 Agustus 2019
dr. Gaby Venera

Myofascial Pain Syndrome

Sindrom nyeri myofascial (MPS) adalah sebuah kumpulan gejala sensorik, motorik, dan otonom yang memberikan keluhan berupa rasa nyeri lokal ataupun menjalar, penurunan rentang gerak, kelemahan otot, dan hilangnya kemampuan koordinasi. MPS memberikan masalah kesehatan yang cukup signifikan yaitu sebesar 85% dari populasi secara umum.

MPS disebabkan oleh beberapa hal seperti trauma langsung atau tidak langsung, kelainan tulang belakang, paparan regangan kumulatif atau repetitif, masalah postural, dan kelainan fisik lainnya.

Myofascial Trigger Point

Sumber gambar: www.medindia.net

Gejala yang dirasakan pada orang dengan MPS antara lain :

  1. Adanya titik nyeri MPS yang disebut dengan myofascial trigger point, sebuah titik sensitif pada otot atau fascia yang apabila diberikan tekanan maka akan memberikan rasa nyeri baik lokal maupun menjalar.
  2. Apabila meraba di titik nyeri maka akan terasa adanya kekakuan di titik otot tersebut.
  3. Nyeri otot saat pergerakan di area sekitar myofascial trigger point.
  4. Terbatasnya rentang pergerakan oleh karena adanya rasa nyeri dan kaku.

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan penyebab nyeri, menentukan diagnosis dan titik nyeri sehingga dapat memberikan penanganan yang sesuai. Penanganan yang baik diberikan berdasarkan penyebab nyeri, apabila tidak berdasarkan penyebab nyeri maka nyeri MPS dapat sering kambuh bahkan persisten. Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan adalah dengan Ultrasonography (USG). USG dapat digunakan untuk melihat kondisi otot tempat titik nyeri muncul disertai dengan melihat area sekitarnya. USG juga dapat memberikan gambaran otot secara dinamis dimana tidak dapat dilakukan dengan rontgen, CT scan, ataupun MRI.

Tujuan tatalaksana MPS antara lain untuk mengurangi kekakuan dan nyeri otot, mengembalikan fleksibilitas otot dan sendi di area sekitar, meningkatkan kekuatan dan ketahanan tulang belakang dan keempat anggota gerak, meningkatkan stabilisasi postur, meningkatkan kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas sehari- hari. Di samping nyeri yang mengganggu fungsi gerak, nyeri MPS dapat memberikan dampak gangguan emosi. Nyeri dan gangguan emosi ini akan berlanjut pada penurunan kualitas hidup. Oleh karena itu dibutuhkan penanganan yang tepat untuk mengurangi keluhan.

Titik nyeri dapat dikompres dengan air dingin saat teraba hangat dan area titik nyeri dirasa panas. Sedangkan kompres hangat saat terasa pegal- pegal. Obat- obatan yang dapat diberikan pada orang dengan nyeri MPS antara lain Obat Anti Inflamasi Non- Steroid (OAINS), obat pelemas otot, obat antikejang, obat anti depresi. OAINS adalah obat yang paling sering diberikan dengan efek samping yang minimal, namun pemberian OAINS ini juga tidak boleh dalam jangka panjang. OAINS yang memberikan efek positif untuk nyeri myofascial antara lain lidokain patch, diclofenac patch, tramadol, dan penghambat Cyclooxygenase-2 (COX-2). Selain OAINS, terdapat obat pelemas otot seperti tizanidin, benzodiazepine, Cyclobenzaprine, dan Thiocolchisoside (TCC); obat antikejang seperti gabapentin dan pregabalin; obat depresi seperti Tricylic Antidepressant (TCAs), duloxetine, dan sumatriptan juga dapat diberikan.

Apabila pemberian obat- obatan tidak memberikan efek yang diinginkan maka dapat diberikan tatalaksana lanjutan seperti suntikan pada titik nyeri dengan Botulinum Type A Toxin (BoNT-A) atau lidokain, Extracorporeal ShockWave Therapy (ESWT), latihan peregangan, pelatihan postur, teknik pemijatan, terapi fisik dengan (Transcutaneous Eletrical Stimulation) TENS dan ultrasound, dry needling ataupun dengan Hyperbaric Oxygen Therapy (HBO).

Suntikan BoNT-A ke otot akan mencegah kontraksi otot yang menurunkan pengeluaran substansi nyeri dalam tubuh. Dry Needling adalah terapi dengan menggunakan jarum. Jarum akan dimasukkan lewat titik nyeri untuk menonaktifkan titik nyeri. Terapi ESWT mengurangi nyeri dengan mengubah konsentrasi substansi nyeri, mengurangi kekakuan otot, dan meningkatkan sirkulasi pembuluh darah di area nyeri. Studi menunjukkan terapi ESWT pada sindrom nyeri myofascial yang dilakukan 1-2 kali dalam seminggu minimal 4 kali sesi terapi memberikan dampak positif.

Terapi latihan peregangan, kekuatan, ketahanan, dan koordinasi dapat dilakukan sehari- hari di rumah setelah memperoleh pengajaran dari dokter ataupun tenaga kesehatan yang handal. Latihan dapat menggunakan theraband atau gymball. Di samping itu juga perlu melatih postur dengan benar.

 

 

 

 

Referensi

  1. Jafri MS. Review Article : Mechanisms of Myofascial Pain. Int Sch Res Notices : 2014; 16pages.
  2. Desai MJ, Saini V, Saini S. Myofascial Pain Syndrome : a Treatment Review. Pain Ther(2013) 2: 21-36.
  3. Ji HM, Kim HJ, Han SJ. Extracorporeal Shock Wave Therapy in Myofascial Pain Syndrome of Upper Trapezius. Ann Rehabil Med. 2012; 36 (5) : 675-680.
  4. Jeon JH, Jung YJ, Lee YJ, Choi JS, Mun JH, Park WY, et al. The Effect of Extracorporeal Shock Wave Therapy on Myofascial Pain Syndrome. Ann Rehabil Med 2102; 36 (5) : 665- 674.
Informasi Customer Service Hub. 085858646477