Otot biceps brachii (bisep) terletak di bagian depan lengan atas dan terdiri dari dua kepala (panjang dan pendek) yang menyatu menjadi satu otot besar. Kedua kepala otot ini menempel pada tulang lengan bawah (radius).
Fungsi utama biceps adalah membengkokkan siku (fleksi) dan memutar telapak tangan ke atas (supinasi). Meski peran utamanya di lengan bawah, tendon kepala panjang biceps melintasi sendi bahu. Jika tendon ini mengalami cedera atau peradangan, bisa timbul nyeri bahu bagian depan.

Biceps juga membantu mengangkat lengan (fleksi bahu) dan sedikit berperan menstabilkan sendi bahu. Saat mengangkat beban atau memutar tangan, otot bisep bekerja sangat aktif. Jika terjadi kelainan pada otot ini, keluhan nyeri bahu bagian depan sering muncul, terutama saat lengan digunakan berulang-ulang.
Otot bisep dipersarafi oleh saraf musculocutaneus, sehingga kerusakan kronis bisa menimbulkan kelemahan otot dan mati rasa di lengan bawah. Dalam aktivitas sehari-hari, bisep berperan saat membuka pintu, mengangkat tas, atau menarik benda.
Tekanan berulang pada tendon bisep, misalnya dari olahraga angkat berat atau gerakan lengan atas yang intens, dapat memicu peradangan kronis. Seiring waktu, struktur tendon bisa menipis dan menimbulkan nyeri menetap.
Long head bisep yang berperan di sendi bahu melekat pada sepertiga atas tulang lengan; meski stabilisasi utama bahu dipegang otot lain, bisep tetap rentan mengalami cedera yang menyebabkan nyeri bahu bagian depan.
Tendinopati bicipitalis adalah kondisi di mana tendon kepala panjang otot bisep di bahu mengalami peradangan atau kerusakan degeneratif. Keluhan khasnya adalah nyeri bahu bagian depan, terutama saat mengangkat lengan lurus ke depan atau memutar telapak tangan.

Nyeri sering terasa ketika menekan bagian depan bahu atau mengangkat beban ringan. Tendinopati bicipitalis seringkali disebabkan oleh penggunaan berulang (overuse) otot bahu, gerakan atletik berulang (seperti lempar ke atas), atau penuaan alami yang membuat tendon menipis.
Kadang-kadang nyeri bahu depan muncul bersamaan dengan kelainan bahu lain, misalnya robekan atau ketegangan otot rotator cuff dan sindrom impingement. Karena itu, nyeri bahu bagian depan yang berlanjut harus diwaspadai sebagai tanda masalah komprehensif pada bahu.
Dokter biasanya mendiagnosis tendinopati bicipitalis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik sederhana. Sebagai contoh, dokter bisa menekan area pangkal biceps di bahu untuk menimbulkan nyeri khas. Tes pencitraan seperti USG atau MRI dapat dipakai untuk melihat kerusakan tendon.
Bahkan cedera kecil yang tidak diobati dapat menimbulkan nyeri menahun di bagian depan bahu. Oleh karena itu, penting mengenali tanda-tanda awal seperti timbulnya nyeri bahu bagian depan saat aktivitas tertentu, dan menyesuaikan gerakan lengan bila perlu.
Jika keluhan nyeri bahu depan tidak membaik setelah beberapa minggu istirahat, kompres dingin, atau obat pereda nyeri (misalnya NSAID), sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.KFR) untuk evaluasi lebih lanjut.
Dalam kasus nyeri bahu bagian depan yang kronis, kolaborasi dengan spesialis rehabilitasi (Sp.KFR) sangat membantu. Dokter Sp.KFR dapat melakukan pemeriksaan lebih mendalam dan merancang program fisioterapi yang sesuai. Misalnya, mereka mungkin memberikan latihan khusus yang menargetkan otot-otot bahu lemah, atau terapi elektro-stimulasi untuk merangsang penyembuhan.
Klinik rehabilitasi sering menggunakan alat bantu seperti tali elastis, bola karet, atau mesin sederhana untuk memperbaiki kekuatan bahu tanpa memicu rasa sakit. Kunci utamanya adalah kesabaran dan konsistensi: penanganan tendinopati bicipitalis biasanya berlangsung berbulan-bulan, sehingga penting melaksanakan latihan yang dianjurkan hingga tendon benar-benar pulih.
Beberapa kondisi peringatan (red flags) yang memerlukan pemeriksaan segera antara lain:
Jika tanda-tanda tersebut ada, segera cari bantuan medis. Penanganan dini cenderung lebih efektif daripada mengabaikan keluhan.
Pencegahan tendinopati bicipitalis penting dilakukan terutama oleh orang dewasa aktif dan olahragawan. Memperhatikan teknik gerakan, pemanasan, dan kekuatan otot bahu dapat mengurangi risiko nyeri bahu bagian depan. Berikut ini beberapa langkah praktis yang bisa membantu menghindari masalah dan mempercepat pemulihan jika sudah muncul gejala:
Langkah rehabilitasi berikut membantu meredakan gejala jika tendinopati sudah terjadi:
Beberapa contoh latihan tambahan untuk menguatkan bahu dan mencegah cedera termasuk:
Faktor risiko lain yang dapat memperburuk tendinopati bicipitalis antara lain kebiasaan merokok dan kondisi medis seperti diabetes. Merokok dan kadar gula darah tinggi bisa mengganggu suplai darah ke tendon, sehingga penyembuhan berjalan lebih lambat. Oleh karena itu, selain latihan fisik, gaya hidup sehat juga penting mendukung perbaikan jaringan tendon, seperti konsumsi makanan bergizi, cukup istirahat, dan menghindari stres berlebihan.
Bila Anda merasakan keluhan nyeri pada bagian depan bahu, jangan ragu berkonsultasi ke dokter atau fisioterapis ahli. Dengan mengenali gejala sejak dini, melakukan pemanasan dan latihan pencegahan secara rutin, Anda dapat mengatasi tendinopati bicipitalis lebih cepat dan mencegah kekambuhan di masa depan.
Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.
Klinik Flex-Free Jakarta Utara
Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421Klinik Flex-Free Bandung
Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat
Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806Klinik Flex-Free Jakarta Selatan
The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561