OSTEOPOROSIS

Selasa, 21 Mei 2019
dr Gaby Venera
Selasa, 21 Mei 2019
dr Gaby Venera

(Sumber gambar: medicalxpress.com)

Definisi Osteoporosis

Osteoporosis (tulang keropos) adalah penyakit metabolik tulang yang cukup umum terjadi di masyarakat. Osteroporosis sering terjadi pada ras Kaukasia, wanita, dan usia lanjut. Massa tulang terbentuk sejak lahir hingga dewasa.

Pertumbuhan massa tulang mencapai puncaknya pada masa pubertas, selanjutnya massa tulang akan mulai berkurang. Massa tulang ditentukan oleh faktor genetik, kesehatan selama pertumbuhan, nutrisi, status endokrin, jenis kelamin, dan aktivitas fisik.

Osteoporosis muncul akibat pembentukan matriks tulang yang tidak mencukupi atau peningkatan resorpsi matriks tulang yang mengakibatkan penurunan massa tulang. Penurunan massa tulang ini akan membuat tulang menjadi mudah patah (fraktur).

Penyebab Osteoporosis

Penyebab osteoporosis dapat diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu :

  • Osteoporosis primer

Yang termasuk penyebab osteoporosis primer adalah menopause (defisiensi hormon estrogen) dan proses penuaan.

  • Osteoporosis sekunder

Yang termasuk penyebab osteoporosis sekunder adalah penyakit metabolik, obat-obatan, dan gaya hidup.

Osteoporosis sekunder

Penyakit genetik

Sistik fibrosis, osteogenesis imperfecta, Ehler Danlos, Sindrom Marfan

Kelainan endokrin

Obesitas, diabetes mellitus tipe 1 dan 2, hiperparatiroid, menopause dini (<40 tahun)

Kelainan gastrointestinal

Penyakit pankreas dan kantung empedu, riwayat operasi pencernaan

Kelainan hematologi (darah)

Hemofilia, leukemia, thalassemia, sickle cell disease

Kelainan neuromuskular

Epilepsi, sklerosis multipel, Parkinson, trauma saraf tulang belakang, stroke

Kelainan rheumatologi dan autoimun

Ankylosing spondylitis, lupus, Rheumatoid arthtritis (RA)

Gaya hidup

Kurangnya  vitamin D dan kalsium, tinggi konsumsi garam, perokok (aktif atau pasif), pecandu alkohol, immobilisasi, Indeks Massa Tubuh (IMT) ≤ 19kg/m2,  kurang beraktivitas, kelebihan vitamin A

Lainnya

AIDS/HIV, penyakit jantung kongestif, skoliosis idiopatik, penyakit paru obstruktif kronik

Medikasi (obat)

Antasida, heparin dan warfarin (pengencer darah), obat kemoterapi, glukokortikoid (prednison ≥5mg/hari selama ≥3bulan)

Diagnosis Osteoporosis

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan seputar gejala dan riwayat penyakit, melakukan pemeriksaan fisik, dan apabila diperlukan akan melakukan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan seperti pengukuran Bone Mineral Density (BMD) dengan menggunakan teknik X-ray absorptiometry (DXA). BMD berfungsi untuk mengukur kekuatan tulang.

Lokasi pengukuran BMD sebaiknya dari area panggul, tulang paha, atau tulang belakang bagian pinggang (lumbar).

Indikasi pengukuran BMD antara lain :

  • Usia > 50 tahun

Usia ≥ 65 tahun, perokok, konsumsi alkohol berlebihan, fraktur tulang belakang atau osteopenia yang telah terindentifikasi oleh foto radiografi, berat badan <60 kg, rheumatoid arthritis, penggunaan glukokortikoid jangka panjang, obat- obatan lain

  • Usia < 50 tahun

Hipogonadism/menopause dini (<40 tahun), sindrom malabsorpsi, penggunaan glukokortikoid jangka panjang, obat-obat lain seperti terapi penekanan hormon androgen/penghambat aromatase (thiazolidinediones) dan Proton Pump Inhibitor (PPI), hiperparatiroid primer

Komplikasi Osteoporosis

Osteoporosis termasuk “silent disease”, penurunan massa tulang akan berkurang perlahan selama bertahun- tahun tanpa adanya gejala. Pasien baru akan menyadari mereka menderita osteoporosis setelah pemeriksaan massa tulang atau terjadinya fraktur.

Fraktur adalah gejala klinis osteoporosis yang dapat terlihat. Fraktur paling sering terjadi pada area kerangka utama seperti tulang belakang (vertebra), panggul, pergelangan tangan, atau bahu pada dewasa usia >50 tahun dengan atau tanpa trauma.

Fraktur dapat terjadi saat terjatuh dari ketinggian tinggi badan atau kurang. Fraktur dapat menimbulkan nyeri akut dan kronik, disabilitas (kecacatan yang berkepanjangan), citra diri yang buruk (fraktur kompresi pada vertebra dapat menimbulkan pengurangan tinggi badan), depresi, bahkan kematian.

Penatalaksanaan Osteoporosis

Sebagai bentuk pencegahan timbulnya osteoporosis, maka disarankan untuk rutin mengkonsumsi kalsium dan vitamin D.

The Institute of Medicine (IOM) merekomendasikan konsumsi kalsium sebanyak 1.000mg/hari untuk laki- laki berusia 50-70 tahun dan 1.200mg/hari untuk wanita >50 tahun dan laki- laki usia >70 tahun.

Konsumsi kalsium sebesar >1.200-1.500mg/hari dapat meningkatkan terbentuknya batu ginjal, penyakit kardiovaskular, dan stroke. Kalsium baik diminum bersamaan dengan makanan sehingga mengurangi paparan dengan asam lambung.

Kalsium karbonat adalah kalsium dengan harga murah namun dapat menimbulkan keluhan pencernaan. Kalsium sitrat tidak menimbulkan keluhan pencernaan dan absorpsinya tidak dipengaruhi asam lambung namun harganya lebih mahal.

Vitamin D penting untuk absorpsi kalsium, kesehatan tulang, kinerja otot, dan keseimbangan. IOM mengajurkan konsumsi vitamin D sebanyak 600IU/hari hingga usia 70 tahun dan 800IU/hari untuk usia >70 tahun.

Dosis maksimal vitamin D adalah 4.000IU/hari. Terdapat 2 macam vitamin D antara lain vitamin D2 (ergocalciferol) dan vitamin D3 (cholecalciferol). Konsumsi kalsium dan vitamin D dapat diiringi dengan latihan beban dan penguatan otot, mengurangi rokok dan alkohol, serta terapi pencegahan jatuh.

Terapi osteoporosis bertujuan untuk mencegah fraktur dan menurunkan risiko jatuh, mengurangi gejala fraktur dan deformitas tulang, untuk meningkatkan fungsi fisik normal.

Salah satu terapi adalah dengan pemberian obat agen antiresorpsi seperti estrogen, bisphosphonates (BPs), dan lainnya. Agen resorpsi tidak menstimulasi pembentukan tulang, hanya mengurangi resorpsi mineral tulang.

Obat ini dikombinasi dengan konsumsi vitamin D dan kalsium secara rutin di samping terapi rehabilitasi fisik seperti latihan beban, penguatan otot punggung, dan terapi keseimbangan serta koordinasi.

Terapi rehabilitasi ini juga dapat mengurangi keluhan pada pasien usia lanjut dengan kifosis berat (kifosis : kelainan di lengkung tulang belakang yang membuat punggung atas terlihat membengkok atau membulat), rasa tidak nyaman pada punggung, dan gaya berjalan yang tidak stabil.

Sumber gambar: www.mayoclinic.org

Selain itu untuk pasien usia lanjut perlu dievaluasi faktor risiko jatuh, modifikasi area lingkungan tempat tinggal, penggunaan alas kaki yang nyaman, penanganan yang adekuat untuk kondisi komorbid seperti gangguan penglihatan, hipotensi postural, aritmia jantung, konsumsi obat psikoaktif, malnutrisi, kifosis, kelemahan otot, dan penurunan kemampuan proprioseptif.

Referensi

  1. Pelechas E, Kalsonoudis E, Voulgari PV,et al. Illustrated Handbook of Rheumatic and Musculoskeletal Disease. Springer. Switzerland : 2019.
  2. Sözen T, özisik L, Basaran NC. An Overview and Management of Osteoporosis. Eur J Rheumatol 4(1). 2017.

Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561