Sindroma Cubital Tunnel, Rehabilitasi Saraf Kejepit di Siku

Senin, 12 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K
Senin, 12 Januari 2026
dr. Ferdinand Dennis K

Apa itu Sindroma Cubital Tunnel dan Bagaimana Bisa Sampai Menimbulkan Saraf Kejepit di Siku?

Sindroma cubital tunnel adalah kondisi ketika saraf ulnaris mengalami tekanan atau jepitan di area siku. Saraf ulnaris merupakan salah satu saraf utama di lengan yang berperan dalam sensasi jari kelingking dan jari manis, serta mengatur beberapa gerakan otot tangan. Saraf ini melewati bagian dalam siku melalui suatu jalur sempit yang disebut cubital tunnel.

Ketika ruang di cubital tunnel menyempit atau tekanan di sekitarnya meningkat, saraf ulnaris dapat tertekan. Inilah yang dikenal sebagai saraf kejepit di siku. Tekanan tersebut sering terjadi akibat kebiasaan siku terlalu sering ditekuk, posisi siku menumpu permukaan keras dalam waktu lama, atau adanya perubahan jaringan di sekitar siku seperti pembengkakan, peradangan, atau penebalan jaringan lunak.

cubital tunnel syndrome

Pada posisi siku lurus, saraf ulnaris relatif longgar. Namun saat siku ditekuk, saraf akan tertarik dan tertekan. Jika kondisi ini terjadi berulang atau berlangsung lama, aliran impuls saraf terganggu dan muncul keluhan saraf terjepit di siku. Pada tahap awal, gangguan ini masih bersifat fungsional dan dapat membaik dengan rehabilitasi konservatif bila ditangani sejak dini.

 

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Saraf Kejepit di Siku karena Sindroma Cubital Tunnel?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk mengalami kondisi ini. Beberapa kelompok lebih rentan, antara lain:

  • Pekerja dengan aktivitas siku berulang, seperti pekerja kantor yang sering menopang siku di meja, teknisi, mekanik, atau pekerja manual.
  • Orang dengan kebiasaan menekuk siku lama, misalnya saat tidur dengan siku tertekuk, menggunakan ponsel terlalu lama, atau mengemudi jarak jauh dengan siku bersandar.
  • Olahragawan rekreasional, terutama yang sering menggunakan gerakan siku berulang seperti tenis, golf, angkat beban, atau olahraga raket lainnya.
  • Individu dengan riwayat cedera siku, termasuk benturan keras, patah tulang, atau dislokasi siku di masa lalu.
  • Penderita kondisi medis tertentu, seperti diabetes, obesitas, atau gangguan sendi yang menyebabkan pembengkakan di sekitar siku.

Pada kelompok ini, risiko jepitan saraf sehari-hari yang tampak ringan dapat memicu gejala jika berlangsung terus-menerus.

 

Apa saja Tanda dan Gejala Awal Saraf Kejepit di Siku?

Gejala biasanya muncul perlahan dan sering kali diabaikan pada tahap awal. Tanda dan gejala yang umum dirasakan meliputi:

  • Kesemutan atau mati rasa pada jari kelingking dan jari manis, terutama saat siku ditekuk lama atau saat bangun tidur.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di sisi dalam siku, yang dapat menjalar ke lengan bawah.
  • Kelemahan genggaman tangan, misalnya sulit membuka tutup botol atau menjepit benda kecil.
  • Sensasi seperti tersetrum saat sisi dalam siku tersentuh atau terbentur.

Pada tahap lanjut, bila saraf kejepit di siku tidak ditangani, dapat muncul pengecilan otot tangan dan gangguan fungsi yang lebih berat. Oleh karena itu, mengenali gejala awal sangat penting agar rehabilitasi dapat dimulai sebelum terjadi kerusakan saraf permanen.

 

Kapan Harus ke Sp.K.F.R. untuk Saraf Kejepit di Siku?

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi (Sp.K.F.R.) berperan penting dalam penanganan konservatif saraf kejepit di siku. Anda disarankan berkonsultasi ke Sp.K.F.R. bila:

  • Kesemutan atau mati rasa tidak membaik setelah beberapa minggu meskipun sudah mengurangi aktivitas pemicu.
  • Nyeri siku mulai mengganggu pekerjaan, tidur, atau aktivitas sehari-hari.
  • Muncul kelemahan tangan atau jari yang terasa semakin jelas.
  • Keluhan sering kambuh meskipun sudah beristirahat.

Di praktik Sp.K.F.R., pasien akan menjalani evaluasi menyeluruh untuk memastikan diagnosis dan tingkat keparahan. Penanganan rehabilitatif konservatif dapat meliputi edukasi modifikasi aktivitas, penggunaan bidai siku (terutama saat tidur), latihan peregangan dan peluncuran saraf (nerve gliding), latihan penguatan otot tangan, serta modalitas terapi fisik untuk mengurangi nyeri dan peradangan.

Dengan rehabilitasi yang tepat dan konsisten, sebagian besar kasus saraf kejepit di siku akibat sindroma cubital tunnel dapat membaik tanpa tindakan operasi. Kunci keberhasilan terletak pada deteksi dini, kepatuhan menjalani program rehabilitasi, dan perubahan kebiasaan sehari-hari yang memberi tekanan berlebih pada siku.


Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561
WhatsApp ×

Jika ada pertanyaan, silahkan menghubungi kami melalui