Rehabilitasi pada Penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS) | Flexfree Clinic Muskuloskeletal

28 Oktober 2019
dr. Shannia Tritama

Rehabilitasi pada Penyakit Guillain-Barré Syndrome (GBS)

(Sumber gambar: www.motionrehab.co.uk)

 

Penyakit Guillain-Barré Syndrome atau lebih sering disebut sebagai penyakit GBS merupakan salah satu penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh penderita secara keliru menyerang sel-sel sehat tubuhnya sendiri khususnya pada sistem saraf tepi. Serabut-serabut saraf tepi perlahan-lahan akan rusak dan menimbulkan gejala pada penderitanya. Hingga sekarang belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang dapat terkena penyakit GBS, namun beberapa studi menunjukkan bahwa hingga 60% penderita mengalami infeksi saluran pernapasan atas dan pencernaan. Infeksi tersebut biasanya ringan, penderita hanya akan mengalami gejala seperti flu, sakit kepala, nyeri-sendi hingga diare. Selama kurang lebih 3-4 minggu setelah infeksi yang mendahului barulah gejala penyakit GBS akan timbul.

Gejala Penyakit GBS

Penderita biasanya akan mengalami sensasi yang tidak pernah dirasakan sebelumnya seperti kesemutan pada kedua kaki ataupun tangan hingga nyeri pada area kaki dan punggung. Sensasi ini cenderung menghilang sebelum gejala utama dikeluhkan pasien yaitu kelemahan. Kelemahan pada kedua sisi tubuh yang dimulai dari bagian bawah tubuh adalah gejala utama yang mendorong kebanyakan penderita datang mencari pengobatan. Kelemahan mungkin pertama kali dirasakan dengan kesulitan menaiki tangga atau berjalan. Gejala sering mempengaruhi lengan, otot pernapasan, dan bahkan wajah, yang mencerminkan kerusakan saraf yang lebih luas. Kadang-kadang gejala mulai di tubuh bagian bawah dan bergerak ke atas hingga ke lengan dan dada. Gejala tersebut dapat menjadi lebih berat dalam hitungan hari sampai minggu, hingga otot-otot menjadi tidak dapat digunakan dan penderita mengalami kelumpuhan total. Apa bila penyakit tersebut sudah mengganggu fungsi dari otot-otot pernapasan, tekanan darah dan otot-otot jantung, biasanya kondisi ini dapat mengancam nyawa penderitanya.

Diagnosis Penyakit GBS

Penyakit ini dapat diderita oleh seluruh kalangan tanpa memandang usia, ras dan jenis kelamin, tetapi penyakit ini lebih sering ditemukan khususnya pada pria dengan usia dewasa muda. Biasanya dokter akan menegakkan diagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang. Adanya kelemahan yang bersifat simetris dimulai dari kedua kaki, sensasi rasa yang abnormal pada area kaki sebelum terjadinya kelemahan, adanya infeksi virus dengan gejala diare ataupun flu yang terjadi beberapa minggu sebelumnya, hilangnya refleks-refleks normal tubuh pada tungkai yang mengalami kelemahan, peningkatan protein dari cairan yang diambil dari tulang belakang hingga konduksi saraf abnormal yang lebih dengan pemeriksaan EMG dapat ditemukan oleh dokter dalam melakukan pemeriksaan sebelum menegakkan diagnosis.

Penanganan Penyakit GBS

Salah satu penanganan yang tidak kalah penting dalam penanganan penderita penyakit GBS adalah rehabilitasi medis. Hampir 40-50% pasien dengan penyakit ini memerlukan rehabilitasi, mengapa? Sebagian besar penderita akan mengalami disabilitas dan ketidakmandirian, sehingga tujuan utama diberikannya rehabilitasi pada penderita penyakit GBS adalah peningkatan kualitas hidup, pencegahan komplikasi dan kembalinya kemandirian khususnya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Kapan terapi rehabilitasi medis dapat dimulai?

Pada prinsipnya terapi ini dapat dikolaborasikan sesegera mungkin, namun biasanya penderita penyakit GBS akan memulai rehabilitasi tersebut 3-6 minggu setelah mendapatkan pengobatan fase akut dan berlangsung sebanyak 3 kali seminggu selama kurang lebih 12 bulan. Modalitas yang diberikan bergantung pada fase penderita yang dihadapi. Terdapat dua fase yaitu fase akut dan fase stabil. Pada fase akut, penanganan bertujuan mencegah komplikasi yang terjadi akibat imobilisasi atau tidak bergeraknya pasien karena kondisi yang dialaminya. Bila terdapat nyeri menelan dilakukan pemasangan selang hidung untuk membantu asupan nutrisi dan cairan, pengeluaran dahak dengan tapping dan latihan batuk, penggunaan compression stocking untuk mencegah hipotensi postural, latihan peregangan otot untuk mencegah kekakuan hingga pengurangan nyeri dengan alat transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) dan diatermi.

Diatermi; TENS

Apabila penderita sudah masuk dalam fase stabil tujuan utama dalam rehabilitasi adalah pengembalian fungsi-fungsi otot yang hilang dan mengembalikan kemandirian penderitanya. Begitu banyak latihan yang dapat dikombinasikan dengan menggunakan alat bantu modalitas terapi rehabilitasi medis yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing penderitanya.

Bila penderita mengalami kelemahan otot pernapasan dapat dilakukan latihan dengan menggunakan incentive spirometry, di mana otot-otot yang bergerak saat menarik napas dan juga diafragma dilatih kembali kekuatannya.

Bila penderita mengalami kelemahan otot-otot tubuh juga kehilangan fungsi sensorik dari serabut saraf dapat dilakukan penguatan otot-otot tungkai bawah dan batang tubuh yang dikombinasikan penggunaan brace dan splint untuk menopang anggota tubuh.

Penguatan otot-otot tungkai bawah dillatih dengan menggunakan speda statis, treadmill dengan atau tanpa pengaman hingga latihan di kolam air untuk membantu merangsang fungsi sensori dan juga penguatan otot. Penguatan otot-otot batang tubuh dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti tilting table, spinal brace dan parapodium.

 

 

Segera setelah pengobatan utama didapatkan pasien, peran rehabilitasi medik harus segera diintegrasikan dalam menangani penderita dengan penyakit GBS.

Apabila Anda memiliki pertanyaan ataupun membutuhkan bantuan kami segeralah menghubungi klinik kami, para dokter ahli dan tim medis kami akan membantu Anda.

Informasi Customer Service Hub. 085858646477