Cedera Lutut Saat Futsal

Rabu, 15 Juli 2020
dr. Gaby Venera
Rabu, 15 Juli 2020
dr. Gaby Venera

Tiba-tiba merasa nyeri pada lutut setelah bermain futsal?

Sudah diistirahatkan dan telah lewat berhari-hari tapi masih terasa nyeri?

Segeralah berkonsultasi dengan dokter, karena kemungkinan Anda mengalami cedera lutut saat futsal pada otot atau ligamen lutut.

Setiap olahraga memberikan risiko cedera, meski olahraga tersebut dilakukan oleh atlet profesional sekalipun.

Apa saja bagian lutut yang dapat mengalami cedera lutut saat futsal ?

Cedera lutut saat futsal dapat dialami pada pemain sepakbola antara lain cedera pada ligamen, meniskus, atau keduanya.

Cedera ini dapat berupa robekan baik robekan sebagian (parsial) atau robekan total.

Ligamen adalah sebuah jaringan dalam tubuh yang menghubungkan tulang dengan tulang dan dalam konteks ini ligamen yang ada di lutut berfungsi untuk menstabilisasi lutut, sedangkan meniscus adalah sebuah jaringan tulang rawan berbentuk huruf “C” yang menjadi bantalan antara tulang paha dan tulang kering.

anatomi lutut

  1. Ligamen ACL (Anterior Cruciate Ligament)

Ligamen ACL adalah ligamen yang menghubungkan tulang paha dan tulang kering.

Cedera lutut pada ligament ACL dapat terjadi dengan atau tanpa riwayat kontak lutut dengan orang lain.

Namun apabila terjadi trauma disertai kontak lutut dengan orang lain maka kemungkinan besar juga mengalami cedera pada struktur lutut lainnya.

Lebih dari 50% trauma kontak disertai dengan robekan jaringan meniskus.

Kondisi cedera lutut yang lebih kompleks dan melibatkan lebih banyak jaringan disebut dengan Triad O’Donoghue yang terdiri dari robekan ligamen ACL, MCL (Medial Collateral Ligament), dan meniskus medial.

  1. Ligamen PCL (Posterior Cruciate Ligament), ligamen MCL (Medial Colateral Ligament), dan ligamen LCL (Lateral Colateral Ligament)

Ligamen PCL menghubungkan tulang paha dan tulang kering.

Ligamen PCL adalah ligament terkuat di antara 4 ligamen lutut lainnya.

Ligamen ACL dan PCL saling menyilang sehingga keduanya membentuk bentuk “X”.

Ligamen MCL dan LCL berada di sisi dalam dan luar lutut.

  1. Meniskus

Meniskus memiliki 2 sisi, yaitu bagian medial (lutut sisi tengah) dan bagian lateral (lutut sisi samping luar).

Gerakan apa yang meningkatkan risiko terjadinya cedera lutut?

1. Cedera ligamen ACL

Sebagian besar cedera ligamen ACL terjadi pada pemain pertahanan (73%).

Gerakan yang paling sering menyumbang cedera ligamen ACL adalah gerakan kontak seperti tackling (51%) dan gerakan non kontak seperti gerakan cutting (15%) dan pivoting (gerakan berhenti mendadak dan mengubah arah).

cedera lutut pemain sepakbola

2. Cedera ligamen PCL, MCL, dan LCL

Cedera ligamen PCL dapat terjadi jika terdapat trauma langsung berupa hantaman pada lutut dari pemain bola lain atau terjatuh dengan posisi lutut yang menekuk menghantam tanah terlebih dahulu,

kesalahan melangkah sehingga terjatuh dalam kondisi lutut menekuk.

Cedera MCL dan LCL terjadi apabila melakukan gerakan pivoting. Hantaman langsung dari sisi samping lutut juga dapat menimbulkan cedera pada ligamen MCL.

3. Cedera meniskus

Bagian meniskus yang rentan cedera saat bermain bola adalah bagian tengah lutut atau meniskus medial.

Cedera meniskus terjadi pada gerakan cutting.

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko cedera lutut saat futsal

Faktor risiko yang meningkatkan risiko cedera lutut yaitu:

  1. Faktor usia dan jenis kelamin

Usia >28 tahun pada pemain sepakbola laki-laki dan usia >25 tahun pada pemain sepakbola wanita.

Wanita juga memiliki risiko cedera lebih tinggi saat bermain sepakbola oleh karena bentuk anatomi panggul dan ekstremitas bawah wanita.

  1. Faktor intrinsik

Faktor intrinsik seperti variasi anatomi terutama bagian pinggang dan ekstremitas bawah para pemain sepakbola yang beragam dan penerapan teknik gerakan yang salah akan meningkatkan risiko cedera.

Variasi anatomi seperti kelemahan ligamen lutut, kelelahan otot, kurangnya kekuatan otot perut dan propriosepsi pemain (kemampuan menyadari pergerakan dan posisi tubuh), dan sudut panggul serta lutut.

Gerakan tackling, cutting, dan pivoting perlu dipelajari sehingga dapat diterapkan dengan benar, serta latihan yang terfokus pada penguatan otot perut dan otot hamstring serta stabilisasi ekstremitas bawah.

Sebelum olahraga hendaknya melakukan gerakan pemanasan dan peregangan serta menggunakan sepatu bola yang nyaman dan sesuai.

  1. Faktor ekstrinsik

Faktor ekstrinsiknya adalah cuaca dan permukaan bermain bola yang kering, termasuk bermain pada permukaan rumput artifisial dibanding permukaan rumput natural.

Apa yang dirasakan pada cedera lutut saat futsal?

  1. Cedera ligamen ACL

Cedera dirasakan seperti ada bunyi “pop” mendadak disertai dengan nyeri pada area depan dan samping belakang lutut.

Lutut juga dirasakan menjadi tidak stabil saat digunakan untuk bertumpu apalagi berjalan.

Pembengkakan dapat terjadi terutama dalam 24 jam pertama.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain USG, X-Ray, ataupun MRI.

  1. Cedera ligamen PCL, MCL, dan LCL

Nyeri akibat cedera ligamen PCL dirasakan tidak separah cedera ligamen ACL dan tidak menimbulkan instabilitas lutut sehingga seringkali tidak terdiagnosis,

namun tetap menimbulkan nyeri, bengkak, dan penurunan rentang gerak lutut meski sedikit.

Cedera pada ligamen MCL dan LCL akan menimbulkan nyeri, kaku, dan bengkak serta instabilitas saat berjalan.

Nyeri pada cedera pada ligamen MCL akan terasa pada sisi tengah lutut sedangkan pada ligamen LCL akan terasa pada sisi samping luar lutut.

  1. Cedera meniskus

Cedera meniskus akan menimbulkan rasa kaku seperti terkunci pada lutut, bengkak dalam 24 jam pertama cedera terjadi, dan nyeri.

Pertolongan pertama saat terjadi cedera lutut saat futsal

  1. Jangan dipijat!
  2. Berikan terapi “PRICE”:

metode PRICE untuk cedera

Protect (lindungi), Rest (istirahat), Ice (kompres es), Compression (Kompresi), Elevation (naikkan posisi kaki lebih tinggi dari tubuh).

Terapi “PRICE” ini dilakukan hingga Anda dapat berjalan atau setidaknya hingga rasa tidak nyaman sudah berkurang.

  • Lindungi lutut agar cedera tidak bertambah berat.
  • Istirahatkan lutut yaitu hentikan atau kurangi aktivitas terutama dalam beberapa hari cedera terjadi.

Hindari memberikan tumpuan berat badan pada lutut yang cedera.

  • Kompres dingin pada area yang bengkak dan nyeri.

Kompres dapat menggunakan kantong es selama 15-20 menit sebanyak 4-8 kali per hari.

Setelah nyeri akut berkurang dan terdapat kekakuan sendi maka dapat ditambahkan dengan pemberian kompres hangat.

  • Kompresi. Lakukan pembebatan pada area lutut untuk meningkatkan sirkulasi darah di area nyeri sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan.
  • Elevasi. Angkat kaki dengan lutut yang bengkak lebih tinggi dari jantung agar bengkak berkurang dengan meletakkan beberapa bantal di bawah sendi lutut.

Apabila nyeri tidak membaik dalam 3 hari atau terdapat ketidakstabilan lutut saat berjalan,

sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter spesialis rehabilitasi medis terutama subspesialis muskuloskeletal (otot, tulang, dan sendi) atau ke dokter spesialis ortopedi (tulang).

Terapi apa yang dapat dilakukan pada cedera ligamen dan meniskus?

Di klinik Flex Free Musculoskeletal Rehabilitation, dokter spesialis rehabilitasi medis kami akan memeriksa kondisi lutut yang nyeri serta melakukan tindakan USG untuk menentukan organ lutut yang mengalami cedera.

Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin akan mengajukan pemeriksaan MRI di luar pemeriksaan USG.

Dokter spesialis rehabilitasi medis kami dapat melakukan terapi Platelet Rich Plasma (PRP), Extracorporeal Shock Wave Therapy (ESWT), ataupun terapi injeksi penguatan otot ligamen untuk menyembuhkan cedera yang Anda alami.

Apabila cedera memerlukan tindakan operasi, maka dokter spesialis rehabilitasi medis akan merujuk Anda ke dokter spesialis ortopedi (spesialis tulang).

Apakah cedera lutut saat futsal dapat sembuh sendiri tanpa terapi?

Cedera ligamen dan meniskus yang tidak diterapi akan sangat sulit sembuh karena kurangnya aliran darah ke organ tendon, ligamen, dan meniskus.

Apabila cedera lutut tidak ditangani dengan tepat dan secepatnya, maka terdapat risiko mengalami osteoarthritis dini (pengapuran tulang).

 

 

 

 

Referensi :

  1. Alentorn-Geli E, Myer GD, Silvers HJ, Samitier G, Romero D, Lázaro-Haro C, Cugat R. Prevention of Non-Contact Anterior Cruciate Ligament Injuries in Soccer Players. Part 1: Mechanisms of Injury and Underlying Risk Factors. Knee Surg Sports Traumatol Arthrosc. 2009; 17(7): 705-29.
  2. Brphy RH, Stepan JG, Silvers HJ, Mandelbaum BR. Defending Puts the Anterior Cruciate Ligament at Risk during Soccer. Sports Health. 2015; 7(3) : 244-249.
  3. Cuccurullo SJ. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review 3rd ed. Demosmedical. New York. 2015.
  4. www.thoughtsontheway.org (Gambar cover).

Buat Kunjungan

Anda dapat menerima layanan dengan mengunjungi salah satu cabang kami.

Klinik Flex-Free Jakarta Utara

Ruko Italian Walk J No. 19, Dekat Pintu Masuk Gate C, Mall of Indonesia, Jl. Raya Boulevard Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +62214514421

Klinik Flex-Free Bandung

Jl. Terusan Pasir Koja No 153/67, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622220580806

Klinik Flex-Free Jakarta Selatan

The Bellezza Shopping Arcade, Lantai dasar Unit SA58-60, (Ex Food Hall, Lobby Timur), Jalan Arteri Permata Hijau No.34, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Lihat di Peta Kirim Pesan WhatsApp Telp: +622125675561